Mengenal Jenis Gunung dan Grade Pendakian

11:01 Agun Adventure
Pada garis besar gunung terbagi menjadi 2, yaitu gunung berapi/aktif dan tidak
aktif. Berdasar bentuknya dibagi menjadi :

1. Gunung berapi perisai (Gunung berapi lava) == seperti perisai
2. Gunung berapi strato
3. Gunung berapi maar == Gunung berapi yang meletus sekali dan segala aktivitas
vulkanisme terhenti, dan yang tertinggal hanya kawahnya saja.


Mengenal Jenis Gunung dan Grade Pendakian
Spoiler pict "Sabana merbabu

Macam dan tingkat pendakian gunung, yaitu pendakian gunung
bersalju (es) dan gunung batu. Keduanya mambutuhkan persiapan dan perlengkapan
yang matang. Menurut Club “Mountaineers”, Seatle Washington, dasar pembagian
tingkat pendakian ada dua cara, antara lain:

1. Berdasar penggunaan alat teknis yang dipakai ( class)


• kelas 1 ; lintas alam tanpa bantuan tangan
• kelas 2 ; dibutuhkan bantuan tangan
• kelas 3 ; pendakian yang mudah memerlukan kaki dan tangan dalam mendaki,
tali mungkin dibutuhkan oleh pemula
• kelas 4 ; pendakian memerlukan tali pengaman
• kelas 5 ; dibutuhkan tali dan pengaman peralatan lain seperti : piton,
runner, chocks dll
• kelas 6 ; mendaki dengan tali dengan peralatan bantuan sepenuhnya berpijak
diatas paku tebing, memanjat rantai sling atau mengunakan stirupss

Pendakian kelas 4 masuk dalam katagori scrembling [Mendaki dengan cara
mempergunakan badan sebagai keseimbangan serta tangan untuk berpegangan dengan
medan yang miring sampai 45 derajat] dan kelas 5 – 6 sudah dapat dikatagorikan
sebagai climbing [panjat]. Dimana kelas 5 merupakan free-climbing [Pemanjatan
dengan tanpa menggunakan alat tehnis untuk menambah ketinggian, alat hanya sebagai
pengaman saja ] dan kelas 6 adalah artificial climbing [Pemanjatan dengan
menggunakan alat tehnis sebagai pembantu menambah ketinggian, misalnya dipijak
atau disentak dan dipegang ]. Apa bila dilakukan di gunung batu / cadas disebut
rock climbing dan bila dilakukan di gunung es disebut dengan snow and ice climbing
.

Open Trip Dieng Culture Festival 2022 klik link;
https://www.agunadventure.com/p/open-trip-dieng-culture-festival-2022.html

2. Berdasar lama waktu akibat sukarnya pendakian dalam medan pendakian (grade)


• grade I, bagian yang sukar dapat ditempuh dalam beberapa jam
• grade II, bagian yang sukar ditempuh dalam setengah hari
• grade III, bagian yang sukar ditempuh dalam sehari penuh
• grade IV, bagian yang sukar ditempuh dalam sehari penuh dan memerlukan
bantuan lereng-lereng sempit untuk bisa naik
• grade V, bagian yang sukar ditempuh dalam waktu 1,5-2,5 hari
• grade VI, bagian yang sukar ditempuh dalam waktu 2 hari atau lebih dan
dengan banyak sekali kesulitan



3. Berdasarkan tingkat keamanan pemanjat dari kemampuan alat yang digunakan


• A1 ;aman sekali, peralatan yang dipasang dan digunakan dapat diandalkan
untuk menjaga keselamatan pendaki
• A2 ;aman, jikapun terjadi masalah, alat masih dapat diandalkan untuk
mencegah akibat yang lebih fatal [misalnya jatuh tidak sampai kedasar]
• A3 ;penggunan alat pengaman cukup aman tetapi tidak dapat diandalkan untuk
menjaga resiko jatuh, kecuali dengan pemasangan yang sangat teliti dan fall-faktor
yang tidak terlalu berbeban tinggi. Bila fall faktor tinggi, maka alat-alat akan
copot dan pendaki bisa menerima akibat fatal
• A4 ;pengaman yang digunakan tidak dapat diharapkan untuk dapat menahan beban
jatuh, cenderung hanya sebagai pengaman psykologis untuk menguatkan mental pendaki



4. Berdasarkan tingkat kesulitan [difficult] medan pendakian


Tingkatan pedakian dengan dasar perhitungan ini bisa disebut juga dengan Yossemite
Decimal System [YDS]. Pang-katagorian berasal dari USA dan saat ini banyak di
gunakan untuk menentukan grade kesulitan panjat tebing. Oleh karena itu YDS
dimulai dengan grade 5 dan seterusnya. Pengkatagorian demikian biasanya digunakan
untuk jenis pendakian free-climbing atau free-soloing [Memanjat sendiri tanpa alat
bantu dan pengaman apapun, biasanya pada jalur pendek]
Anehnya YDS sendiri menyalahi kaidah matematis penghitungan decimal, dimana
misalnya suatu jalur mempunyai ketinggian 5,9 [lima point sembilan] lalu grade
selanjutnya menjadi 5.10 [lima point sepuluh]. Peng-angka-an ini menjadi “aneh”
akibat grade 5.9 lebih rendah dibanding dengan 5.10, padahal dalam matematika
sebaliknya.


YDS sendiri diawali dengan grade 5.8 atau 5.9, selanjutnya 5.10, 5.11, 5.12, 5.13
dan 5.14. Sampai saat ini tidak ada grade melebihi 5.14.

Perkembangan keanehan peng-angka-an decimal ini menurut beberapa diskusi pegiatan
pendakian dan panjat tebing akibat keselahan memprediksikan kemampuan pendakian
pada saat system YDS dipublikasikan. Dimana pada saat itu diperkirakan kemampuan
pendakian / panjat hanya sampai grade 5.9. Padahal dalam kemudian berkembangan
kemampuan pendakian / pemanjatan yang lebih mutakhir dan luar bisa.
Bahkan saking sulitnya menentukan dengan hanya angka-angka decimal yang terbatas,
seiring dengan banyaknya jalur pendakian/pemanjatan yang dibuat oleh kalangan
pemanjat, maka grade decimalpun ditambahkan dibelangkannya dengan alfhabet.
Contoh; 5.12a, 5.13 d atau 5.14 c


Memang sampai saat sekarang barangkali hanya ada beberapa jalur yang dibuat
manusia dengan grade 5.14, itupun terbatas pada jalur-jalur pendek.
Secara umum grading dengan YDS dapat dijelaskan sebagai berikut :
• 5.8 ; jalur yang ditempuh mudah, grip [pegangan] sangat bisa digunakan oleh
bagian tubuh yang ada untuk menambah ketinggian
• 5.9 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3 bertahan 1 mencari
• 5.10 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3 bertahan 1 mencari, hanya saja
perlu keseimbangan [balance] yang baik
• 5.11 ; dapat bertahan pada 2 atau 3 grip dengan satu diantaranya sangat
minim dan perlu keseimbangan. Jalur hang hampir bisa dipastikan memiliki grade
demikian.
• 5.12 ; terdapat 2 dari 2 kaki dan 2 tangan yang dapat digunakan untuk
menambah ketinggian. Dengan kondisi grip yang kecil di satu bagiannya atau paling
tidak sama
• 5.13 ; hanya 1 dari diantara 2 kaki dan 2 tangan yang dapat digunakan untuk
menambah ketinggian, itupun dengan grip yang sangat minim.
• 5.14 ; “mulus seperti kaca”, tidak mungkin terpikirkan untuk dapat dibuat
jalur pendakian/pemanjatan


Makanan (logistik)
Makanan yang dibawa seharusnya dapat memenuhi kebutuhan energi pendaki, selama
pendakian seserorang membutuhkan sitar 5.000 kalori dan 100 gram protein, kalori
dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi nasi. Namun ada baiknya hanya memakan nasi satu
kali sehari di kala malam (saat berkemah) alasayanya beras realtif berat dan
memerluakan waktu yang lama untu memasak serta menghabiskan banyak bahan bakar.
Fungsi beras dapat diganti dengan roti, biskuit, coklat, dan hevermit.
Hal yang perlu diperjatikan hindari mengkonsumsi makanan yang harus dimasak lebih
dahulu selama mendaki, karena hal ini hanya akan merepotkan dan menghabiskan waktu
perjalanan. Pilihlah makanan praktis seperti coklat, roti, agar-agar, buah-buahan,
dapat juga dibuat mixfood yang terdiri atas kacang, coklat, biskuit dan kismis.
Umumnya makanan yang paling praktis dibawa adalah makanan instan yang memiliki
kemasan, buanglah kemasan karton sebelum dimasukan dalam ransel dengan demikian
berat ransel dapat berkurang dan makanan yang dibawapun tidak banyak memakan
tempat didalam ransel.


Peralatan lain
Selain peralatan dan sejumlah perlengkapan, jangan lupa membawa perlengkapan kecil
yang terdanag dirasa sepele, namun amat penting. Perlengkapan itu berupa obatobatan
seperti pelester, obat merah, tisu basah dan kering, senter, benang, jarum
jahit, jam dan alat tulis. Peralatan itu terkandang dibutuhkan dalam keadaan
darurat atau menjaga tubuh tetap bersih.
Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah jangan lupa membawa tas / kantong
plastik, tas plastik tersebut dibutuhkan untuk menaruh barang-barang yang kotor
dan basah sebelum dicuci dan tas plastik juga berfungsi untuk membawa kembali
sampah-sampah pendakian, sampah-sampah sisa makanan atau berkemah, janganlah
dibuang begitu saja di alam terbuka. Selain megotori, membuang sampah dapat
menyulitkan usaha pencarian dan pertolongan bagi pendaki yang tersesat atau
mengalami kecelakaan, kerap kali usaha pencarian oarang tersesat terbantu dengan
petunjuk dari barang-barang yang tercecer.

Baca juga :

Mendaki Memakai Celana Jeans, bolehkah...?
Ultralight yang benar : Alat yang terbaik dengan berat paling ringan
Catatan Backpacker : Tips Bagi Yang Tidak Bisa Bahasa Asing