Metode STOP dalam survival

18:29 Agun Adventure
Setiap kegiatan yang kita lakukan tentunya akan ada hal baik dan hal buruk yang menyertai. Begitu juga dengan kegiatan alam bebas. Bila hal baik yang menyertai kita, maka itu bonus dari manajemen perjalanan kita yang baik dan dilakukan dengan perencanaan yang matang.



Namun, bila hal buruk yang menyertai, tentunya akan membuat kita menjadi panik. Kepanikan yang sering dialami biasanya diakibatkan terpisah dari rombongan atau tersesat. Sifat panik ini tentunya harus diatasi agar tidak memperburuk keadaan

Ada sebuah metode sederhana untuk menangani rasa panik dalam situasi darurat yang disebut metode STOP. Metode ini singkatan dari stop, think, observe dan plan.
.
• Stop atau berhenti
Ketika kita menyadari kalau kita tertinggal dari rombongan atau tersesat, maka berhentilah dan luangkan waktu untuk istirahat. Hal ini berguna agar kita tidak semakin jauh tersesat dan membantu pikiran kita agar tetap tenang.
.
• Think atau berpikir
Setelah kita tenang, cobalah untuk berpikir positif dari keadaan yang ada. Mulai dari memotivasi diri agar bisa meningkatkan rasa percaya diri dan mengatasi rasa takut, pikirkan juga dimana lokasi kita berada dan bagaimana kita bisa sampai tersesat. Pikiran yang positif juga akan membantu dalam mengambil keputusan.
.
Open Trip Dieng Culture Festival 2022 klik link;
https://www.agunadventure.com/p/open-trip-dieng-culture-festival-2022.html

• Observe atau observasi
Pada tahap ini, cobalah melakukan observasi apa saja yang ada disekeliling kita mulai dari cuaca, ada atau tidaknya tempat berlindung, air, ketinggian tempat kita berada, jarak tempat kita ketempat terbuka dan juga sumber daya yang bisa digunakan untuk membuat api, tempat berlindung dan membuat sinyal darurat. Hal ini tentunya akan berguna bagi kita agar tetap bertahan hidup dan menemukan jalan keluar dari kondisi tersesat atau juga bisa mudah ditemukan tim pencari.
.
• Plan atau rencana
Setelah banyak observasi yang kita lakukan, segera lakukan rencana berdasarkan prioritas kebutuhan kita. Lakukan rencana secara sistematis seperti mencari tempat berlindung, membuat api untuk menghangatkan diri dan sinyal darurat serta mencari air minum

Semoga metode ini bisa membantu kita dalam kondisi tersesat....

Sumber: google

Warna Cerah Bukan Sekadar Gaya! Ini Alasan Kenapa Pakaian Mencolok Bisa Jadi Penyelamat Nyawamu saat Petualangan

16:40 Agun Adventure


Tinggalkan warna-warna monokrom di rumah! Saat berpetualang di alam terbuka, memilih pakaian berwarna cerah atau mencolok adalah keputusan paling cerdas yang bisa kamu buat. Ini bukan tentang tren fesyen, melainkan tentang keselamatan, strategi, dan psikologi yang bisa membuat perbedaan besar dalam situasi darurat. Pakaian dengan warna terang adalah kode isyarat paling universal yang bisa membantu tim penyelamat menemukanmu di antara rimbunnya pepohonan, tebing terjal, atau hamparan salju. 
Kenapa Warna Cerah Sangat Penting saat Berpetualang?
  1. Visibilitas Maksimal, Penyelamatan Optimal: Saat kamu tersesat, terjatuh di jurang, atau mengalami cedera, pakaian berwarna gelap akan membuatmu menyatu dengan alam dan sulit terlihat. Sebaliknya, warna-warna cerah seperti fluorescent yellow, oranye terang, atau merah menyala akan langsung menonjol di antara hijau dedaunan, cokelat tanah, atau putih salju. Bahkan dari jarak jauh atau dalam kondisi minim cahaya seperti kabut atau senja, warna-warna ini bisa dengan mudah tertangkap oleh mata tim SAR, helikopter, atau teman seperjalanan.
  2. Mencegah Insiden dengan Pemburu: Bagi para pendaki yang beraktivitas di area perburuan, menggunakan pakaian cerah adalah keharusan. Ini akan secara jelas mengidentifikasi dirimu sebagai manusia, bukan target buruan, sehingga mengurangi risiko tertembak secara tidak sengaja.
  3. Efek Psikologis Positif pada Diri Sendiri: Warna memiliki pengaruh besar terhadap suasana hati. Warna cerah seperti kuning dan oranye dapat membangkitkan energi, semangat, dan optimisme. Mengenakan pakaian cerah bisa meningkatkan mood positif, membuatmu merasa lebih bersemangat, dan pada akhirnya meningkatkan performa mendakimu. Ini juga bisa menularkan energi positif kepada teman seperjalanan, menciptakan suasana tim yang lebih ceria.
  4. Meningkatkan Kepercayaan Diri: Ada kepercayaan diri ekstra yang muncul saat kamu tahu kamu sudah mengambil semua tindakan pencegahan yang diperlukan. Mengenakan warna cerah adalah salah satu langkah praktis yang bisa membuatmu merasa lebih aman dan siap menghadapi tantangan.
  5. Perlindungan dari Serangga: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa nyamuk dan serangga tertentu lebih tertarik pada warna-warna gelap. Mengenakan warna yang lebih cerah dapat membantu mengurangi risiko gigitan serangga yang bisa mengganggu perjalanan atau bahkan menularkan penyakit. 
Jadi, lain kali kamu akan memulai petualangan, pertimbangkan untuk memilih jaket, topi, atau tas dengan warna-warna yang mencolok. Ini adalah investasi kecil yang bisa memberikan perlindungan besar bagi keselamatanmu. Selalu ingat, berpetualanglah dengan bijak, dan pulanglah dengan selamat!

Terungkap! 3 Hal Paling Mengerikan saat Mendaki yang Jarang Dibahas Pendaki Modern

22:18 Agun Adventure
Bukan hanya mitos atau kisah horor, ada bahaya nyata di gunung yang bisa membuat petualanganmu berubah menjadi mimpi buruk. Banyak pendaki modern yang hanya mengandalkan peralatan mahal tanpa membekali diri dengan pengetahuan esensial, padahal tiga ancaman ini bisa datang kapan saja. Siapkah kamu menghadapinya?


1. Pertemuan Tak Terduga dengan Penghuni Asli
Gunung adalah rumah bagi berbagai satwa liar, termasuk binatang buas. Alih-alih menghilang, mereka bisa muncul karena beberapa alasan. Kunci untuk selamat bukanlah panik, melainkan memahami perilaku hewan dan teknik dasar menghadapinya. Pembekalan pengetahuan tentang alam dan penghuninya adalah hal yang sering dilupakan, padahal inilah yang paling esensial.




2. Ancaman Tersesat yang Mematikan
Tersesat di jalur pendakian, apalagi sendirian, adalah mimpi terburuk setiap pendaki. Masalahnya, banyak pendaki modern kurang menguasai navigasi medan dan survival. Saat tersesat, kepanikan akan mengambil alih, membuat keputusan menjadi gegabah dan berbahaya. Sementara pendaki lawas terbiasa mengandalkan ilmu dasar bertahan hidup, pendaki modern lebih mengandalkan petunjuk arah yang belum tentu selalu ada.


3. Bahaya Tersembunyi di Balik Beban Ringan
Demi mengurangi beban bawaan, banyak pendaki yang nekat membawa bahan makanan dan air seadanya. Padahal, kehabisan logistik di tengah hutan adalah ancaman serius. Kekurangan nutrisi dan hidrasi membuat tubuh rentan terhadap hipotermia dan Penyakit Ketinggian (AMS). Ingat, lebih baik membawa bekal berlebih daripada kekurangan. Sebagaimana pesan para pendaki lawas: siapkan bekal 3 hari lebih banyak dari perkiraan pendakian.
Jangan biarkan petualanganmu berujung tragis. Bekali dirimu dengan pengetahuan dan keterampilan, bukan hanya peralatan mahal. Gunung memang indah, tapi juga menyimpan bahaya yang bisa mengancam jika tidak dihormati. Bagikan informasi ini ke teman-temanmu dan jadilah pendaki yang cerdas!"

Pentingnya menjaga jarak aman dengan partner sependakian

11:00 Agun Adventure
Sebelumnya diberitakan seorang pelajar hilang saat melakukan pendakian di Bukit Piramid. Berdasarkan keterangannya, ia terpisah dengan teman-temannya ketika mereka terjebak kabut dalam perjalanan turun. Lalu setelah seminggu lebih hilang, baru diketemukan dalam keadaan tak bernyawa.

Seperti yang Agun Adventure cuplik dari kumparan.com, Pegiat Alam, Harley Sastha mengungkapkan bahwa pendaki sebaiknya senantiasa menjaga jarak aman antara dirinya dan teman-teman sependakian agar tidak saling kehilangan jejak. Cara ini merupakan tindakan terbaik yang bisa dilakukan ketika hendak mengantisipasi datangnya kabut.

"Sama kaya kasus di Bukit Piramid, kalau baca ceritanya mereka sempat terpisah karena kabut, dianggapnya temannya sudah sampai, padahal ternyata waktu tiba di bawah, temannya belum sampai. Kalau misalnya enggak ketemu teman pas lagi di perjalanan, jadi kayak tebak-tebakan, 'Oh, sudah duluan kali', 'Sudah sampai bawah kali', ternyata terpisah," ungkapnya.

Selain itu, Harley menyarankan agar pendaki senantiasa menjaga perilaku atau tindakan saat berada di gunung. Serta tidak meremehkan segala sesuatu, sehingga selalu siap apapun kemungkinan yang terjadi. .
"Memang kita mesti hati-hati banget kalau kabut, harus bisa saling jaga lah, terutama di jalur-jalur tipis, kalau kabut atau jatuh kan enggak kelihatan. Persiapannya mesti baik, harus tahu situasi, cuaca, bukan berarti karena pendek dianggap remeh," ujarnya.
.
"Apalagi kalau medannya tipis/sempit gitu kayak Bukit Piramid, kanan kiri jurang, enggak usah saling dulu-duluanlah. Ayo, saling kontrol, saling jaga teman, karena demi keselamatan kita kan, untuk urusan safety," pungkas Harley.

Ada saran dan tambahan guys?

Melodi badai pembunuh gunung slamet, februari 2001

11:00 Agun Adventure
Adalah mereka Turniadi (Dodo), Masrukhi, Dewi Priamsari, Bagus Gentur Sukanegara, Ismarilianti (Iis), Bregas Agung, dan Ahmad Fauzan. Mereka berangkat Minggu tanggal 4 Pebruari 2001 pagi dari Gelanggang Mahasiswa UGM ke Stasiun Lempuyangan menuju Bumiayu. Diselingi makan siang, mereka melanjutkan perjalanan dan tiba di Pengasinan sekitar pukul 15.30. Dari Pengasinan menuju desa awal pendakian Desa Kaliwadas yang berjarak 7 km ditempuh dengan jalan kaki dan bermalam di Desa Kaliwadas.
Gambar hanya pemanis

Senin (5/2) sekitar pukul 09.30, kelompok ini mulai melakukan pendakian menuju Puncak Slamet. Kurang lebih pukul 15.30 WIB mereka sampai di pertemuan jalur Kaliwadas – Baturaden dan meneruskan perjalanan sampai pukul 17.00 kemudian membangun camp dan istirahat semalaman.

Selasa (tanggal 6 Pebruari 2001) siang, sekitar pukul 13.00 WIB, mereka pun sudah berada di garis vegetasi puncak gunung tersebut. Para pendaki yang mengenal puncak Slamet pasti tahu, garis vegetasi itu tidak hanya merupakan batas untuk bisa tumbuhnya tanaman, tapi juga sering menjadi semacam point of no return. Begitu pendaki melewati garis tersebut menuju puncak, bahaya badai dan kabut tebal sering datang dengan tiba-tiba dan jika ini terjadi maka sulit untuk kembali. Benar juga, meski sudah mencapai batas vegetasi, mereka terhambat untuk meneruskan perjalanan ke puncak. Mereka berencana, jika memungkinkan Selasa langsung naik ke puncak dan sorenya langsung turun ke Bambangan.

Namun badai tiba dan puncak Slamet diselimuti kabut tebal. Mereka lantas memutuskan untuk membuat base camp, mendirikan tiga tenda di dekat garis vegetasi gunung berketinggian 3.432 meter di atas permukaan air laut yang terletak di perbatasan Kabupaten Pemalang, Banyumas, Tegal, dan Purbalingga itu. Mereka beristirahat untuk menunggu esok hari.

Sebenarnya Rabu (7/2) pagi pukul 05.00 WIB cuaca sekitar Puncak Slamet cerah. Namun mereka tak bisa mendaki, karena belum mengepak perlengkapan. Baru sekitar pukul 06.00 WIB barang-barang selesai dipak, dengan menyisakan satu tenda yang dibiarkan tetap berdiri mereka menuju puncak. Namun saat itu pula, kabut tebal dan badai angin kencang kembali melanda puncak Slamet. Mereka kembali masuk tenda karena mereka tak mau mengambil risiko terserang hipothermia, karena suhu di garis vegetasi saja saat itu di bawah nol derajat celcius.

Sekitar pukul 10.00 WIB, badai mulai reda. Meski puncak masih diselimuti kabut, angin tidak lagi menderu kencang. Sebenarnya ada rasa keraguan untuk naik ke puncak, tetapi Masrukhi dan Dodo sebagai pendamping menyatakan berani untuk mengantar sampai ke puncak. Akhirnya perjalanan naik ke puncak diteruskan. Tapi, di tengah pendakian, badai menghebat kembali. Mereka masuk dalam situasi point of no return. Saat itu, mereka berada di tengah perjalanan antara batas vegetasi dan puncak. Mereka sempat berencana untuk kembali ke base camp. Tapi, baik kembali ke base camp maupun meneruskan ke puncak, sama sulitnya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk meneruskan pendakian.

Saat itu, jarak pandang hanya sekitar setengah meter, karena tebalnya kabut. Masrukhi, mahasiswa Fisipol UGM, tiba-tiba berteriak minta tolong. Dia diduga terserang hipothermia (penurunan temperatur tubuh secara mendadak) dan terguling ke lereng. Mereka mendengar suara itu, namun, karena tebalnya kabut, mereka tidak bisa melakukan apapun. Setelah mereka berenam sampai puncak, Dodo, Fauzan, dan Gentur, turun menjemput Masrukhi. Mereka memapah Masrukhi hingga ke puncak Tugu Surono. Tugu itu adalah tanda puncak tertinggi Gunung Slamet. Di puncak yang juga bibir kawah Slamet itu mereka mendirikan tenda dan menginap semalam. Saat itu mereka tidak mungkin kembali, karena badai makin menjadi-jadi.

Bahkan hingga keesokan harinya, Kamis (8/2), badai tak juga reda. Mengingat kondisi fisik mereka makin lemah, padahal masih membutuhkan tenaga untuk turun, akhirnya mereka memutuskan untuk turun. Saat itulah Masrukhi yang kondisi fisiknya masih lemah kembali terserang hipothermia. Dia sempat terguling, namun beruntung, Bergas yang ada di depan Masrukhi sempat menghadang tubuhnya, kalau tidak tubuh Masrukhi saat itu juga sudah masuk jurang. Kelima pendaki lain segera mendekati tubuh Masrukhi dan Bergas yang terjatuh. Mereka memutuskan menunda perjalanan, dan kembali mendirikan tenda di sekitar lokasi jatuhnya Masrukhi. Padahal, saat itu mereka masih berada di kawasan non-vegetasi (tanpa tumbuh-tumbuhan) di Puncak Slamet.

Tiba-tiba, beberapa meter di bawah mereka, terdengar sayup-sayup suara beberapa orang yang berteriak-teriak. Namun mereka tak mendengar secara jelas, apa yang orang-orang itu ucapkan. Mereka hanya bisa berkomunikasi dengan peluit, agar tidak saling kehilangan kontak. Mereka lantas meminta Dewi untuk mendekati asal teriakan itu. Dipandu suara peluit dari pendaki lain, akhirnya Dewi dapat mendekati mereka. Mereka ternyata pendaki dari Jakarta, tapi tidak berani memberi pertolongan, karena kabut terlalu tebal. Para pendaki asal Jakarta itu, memutuskan untuk turun ke Bambangan, desa terdekat di kaki Gunung Slamet, untuk minta pertolongan dari desa tersebut. Dewi diputuskan ikut bersama pendaki dari Jakarta turun ke bawah. Saat itu kondisi Masrukhi masih hidup, hanya saja kondisinya terlihat payah. Dalam perjalanan turun Dewi sempat bertemu Tim SAR dan sampai di Bangbangan Kamis malam, sekitar pukul 21.30. Segera setelah itu, Dewi yang mahasiswi D-3 Fakultas Geografi UGM itu melapor ke Kapolsek.

Sementara itu siang hari menjelang sore, di atas sana cerita getir terjadi. Maut kemudian merenggut lima nyawa pendaki Mapagama itu satu demi satu. Korban pertama adalah Masrukhi. Dia menghembuskan napas terakhir di pangkuan Dodo di lokasi basecamp. Mereka memutuskan untuk turun meninggalkan jenazah Masrukhi, dengan pertimbangan akan dievakuasi kemudian. Namun, kondisi fisik Bergas dan Fauzan sudah sangat kelelahan. Baru turun beberapa meter, Fauzan terjatuh ke selokan dan terguling beberapa meter. Bergas juga tampak kepayahan. Akhirnya, diputuskan untuk mendirikan tenda dan menginap lagi semalam. Di tempat ini, Fauzan terserang hipothermia. Sementara, persediaan logistik juga semakin terbatas, dan tak bisa dimasak karena kompor gas lipat mereka terbawa Dewi. Mereka hanya makan seadanya, mie instant kering, permen dan sambal pecel.


Keesokan harinya,Jumat (9/2), diputuskan hanya Dodo yang turun ke bawah, untuk minta pertolongan. Namun, hingga Sabtu (10/2), pertolongan tidak kunjung datang. Akhirnya, diputuskan Gentur untuk turun, sedangkan Iis tetap menunggui Fauzan dan Bergas. Dalam perjalanan turun, Gentur yang hanya berbekal delapan permen mengalami kesulitan yang luar biasa. Posisi mereka turun sejak dari puncak memang sudah bergeser, tidak lagi di jalur pendakian. Untungnya, ia menemukan alur sungai. Dengan mengikuti alur sungai itulah, Gentur akhirnya sampai kesebuah jalan aspal di Desa Serang, sebuah desa di antara Baturaden Kabupaten Banyumas dan Desa Bambangan Kabupaten Purbalingga.

Sampai di tempat itu, Ahad (11/2) pagi, Gentur langsung minta diantar tukang ojek ke Desa Bambangan. Begitu sampai, Gentur baru tahu Dodo tidak pernah sampai di desa terakhir rute pendakian Gunung Slamet itu. Dari situlah, kemudian Tim SAR dari berbagai kelompok pecinta alam sejumlah universitas, dibantu warga Bambangan dan Basarnas, memulai upaya pencarian.

Senin (12/2), adalah Fauzan, mahasiswa D-3 Geografi UGM yang pertama kali diketemukan oleh Tim SAR dakam kondisi sudah meninggal di dalam tenda, 20 meter di bawah garis vegetasi. Sementara Iis dan Bergas tidak lagi berada di tempat itu. Iis, mahasiswi Fakultas Kehutanan UGM, baru ditemukan pada Rabu (14/2). Waktu ditemukan, Iis berlindung di bawah cerukan air terjun di ketinggian 2750 meter, hanya mengenakan raincoat yang basah dengan kerudung (jilbab) dilepas. Kondisi fisiknya sudah teramat payah, gigi depan patah, luka di tulang kering kaki kanan dan leher, namun ia masih sadar. Karena sudah sore, tiga anggota Tim SRU (Search and Rescue Unit) yang menemukan Iis memutuskan untuk mendirikan tenda dan bermalam.

Setelah mengganti baju Iis yang basah, Tim SRU langsung membuat api unggun dan penyelamatan skin to skin (kulit ke kulit) untuk mengatasi hypotermia yang diderita Iis. Dari sore sampai malam hanya itulah yang bisa dilakukan. Eko Cahyo (anggota SRU 3 dari Unit P3K UGM) memutuskan memasukkan Iis ke dalam sleeping bag. Sekitar pukul 22.00, Iis mulai membaik dan bisa bicara serta menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan yang mudah.

Kamis (15/2) pukul 01.00, Eko Cahyo mendapat giliran untuk tidur, dan Samsi pun menggantikan posisi Eko untuk menjaga Iis dengan membikin api unggun dan mengajak mengobrol serta menempelkan penghangat ke tubuh Iis. Pukul 03.00 pagi Samsi berbaring di sebelah Iis dan karena kelelahan, Samsi pun tertidur. Ketika terbangun sekitar pukul 04.30, kondisi Iis sudah kritis tanpa respons, sehingga dilakukan pernapasan buatan sampai sekitar 20 menit. Sampai pukul 05.20 terus diupayakan penyelamatan namun gagal. Dan pagi hari sekitar pukul 07.00 mereka mengirim berita bahwa Iis sudah meninggal.

Pada hari yang sama saat Iis diketemukan (Rabu-14/2), Tim SAR yang memang dipecah-pecah menjadi beberapa unit kecil, juga menemukan Dodo. Mahasiswa Fak Hukum UGM ini juga diketemukan sudah meninggal. Sementara Bergas, mahasiswa Fakultas Peternakan UGM, ditemukan Sabtu (17/2), juga sudah meninggal dunia, di dekat batas vegetasi. Korban terakhir yang ditemukan adalah Masrukhi. Jenazahnya baru ditemukan Senin(19/2) pada lokasi jauh dari tempat semula ditinggalkan, sekitar 200 meter di atas garis vegetasi (misteri yang sampai saat itu belum terjawab).

Dan dari tujuh pendaki Mapagama itu, hanya dua pendaki yaitu Dewi dan Gentur yang selamat. Lalu mengapa hanya ada plakat dengan nama Iis di sana (Kendit)? Ternyata, kawan-kawan Iis dari Silvagama (Mapala-nya Fakultas Kehutanan UGM) yang memasangnya. Sebelumnya Iis memang pernah mendaftarkan diri menjadi anggota Silvagama, tetapi tidak lulus karena sakit dan tidak bisa mengikuti seluruh kegiatan Diklat Silvagama. Walau demikian, Iis tetap menjadi bagian dari Silvagama dan sering berkumpul bersama di Sekretariat Silvagama. [diteruskan dari : kumanaids]

Share dengan sesama penggiat alam. Semoga bermanfaat, jabat salam Topi Rimba !

Inilah hal yang sering terjadi saat berada di alam bebas, kamu pernah mengalami?

16:00 Agun Adventure
Hal yang sering terjadi di alam bebas diantaranya :
Inilah hal yang sering terjadi saat berada di alam bebas, kamu pernah mengalami?

1. Psikologis : panik, takut, cemas, kesepian, bingung, tertekan, bosan, putus asa, dll. Pengaruh psikologis yang disebabkan karena perasaan terasing.

2. Fisiologis : sakit, lapar, haus, luka, lelah, dll.
Pengaruh Fisiologis yang disebabkan karena kelelahan, dan kurang tidur

3. Lingkungan : panas, dingin, kering, hujan, angin, vegetasi, fauna, dll. yang menyebabkan perasaan cemas akan sesuatu yang mengintai dari balik pepohonan atau semak-semak yang berada di alam, atapun waktu berada di laut, perasaan takut akan munculnya sesuatu yang mengerikan dari dalam air, sehingga menyebabkan keadaan tertekan dan panik yang luar biasa

Hal itulah yang sering membuat para penikmat alam sering sekali terlena, sehingga membuat mereka yang mengalaminya terlambat menyadari kalau dirinya sedang mengalami dis-orientasi.
Untuk menangani hal tersebut semua penikmat alam bebas, baik hiking, menyelam, atau jelajah hutan, dan lain-lain harus terlebih dahulu membekali dirinya dengan pengetahuan untuk setidaknya mengurangi resiko.

Saran untuk kalian semua, jangan pernah sekali-kali melawan alam karena kita tidak akan mampu dan tidak akan bisa..  kecuali kita beradaptasi, menjadi satu dengan alam dan mencari solusi untuk mempunyai prinsip bertahan Hidup dan baik baik saja ketika mengalami hal-hal di atas, Yaitu dengan Ilmu Pengetahuan dan Pengalaman..

BELAJAR ILMU SURVIVAL DAN NAVIGASI SERTA ILMU LAINNYA adalah suatu kebutuhan penting jika kamu ingin hidup dekat dengan alam, menjelajahi alam baik itu laut, hutan maupun gunung.

Jangan pernah menganggap remeh atau merasa sudah pernah atau sering beraktifitas di alam bebas, karena jika sampai mengalami tersesat atau musibah di tengah alam (laut, hutan, gunung) malah nantinya akan membuat diri sendiri ataupun orang lain kerepotan dan terbebani karena ulahmu sendiri.

Jadi bijaklah, karena sejatinya manusia lah yang membutuhkan alam, bukan alam yang membutuhnkan manusia dan sebelum kalian dimakan oleh alam itu sendiri. Dan juga salah satu ilmu terbaik adalah dengan belajar dari alam itu sendiri.

Selamat belajar 🙏

Baca juga :
Kontak BaseCamp pendakian gunung
Catatan Anak Gunung : Membuat tenda menjadi waterproof (kembali)
Menyalakan Api Dengan Teknik Prasejarah Bow And Drill

Tata Cara Mendaki Gunung Yang Benar

17:00 Agun Adventure
Semakin lengkap perbekalan mendaki gunung yang kita bawa dalam ransel semakin baik. Artinya kita akan nyaman dan aman selama mendaki gunung. Tidak akan kekurangan makanan dan minuman,hangatnya tidur dalam sleeping bag, nyeyaknya tidur dalam tenda, terhindar dari hujan lebat atau dingin yang merasuk tulang.
Tata Cara Mendaki Gunung Yang Benar

Perlengkapan yang harus dibawa bisa kita urutkan dari atas kepala seperti topi atau balaklava untuk menghangatkan kepala,kemudian kacamata gelap menahan sinar matahari terik yang menyilaukan, syal untuk menahan dingin pada bagian leher, untuk bagian badan kita bawa kaos, sweeter/sleeve, raincoat/jaket. Sedangkan bagian pinggul kebawah,celana panjang/pendek,celana dalam dan bagian kaki kaos kaki, sepatu dan sandal. Perlengkapan berteduh dari panas dan hujan, agar kita bisa istirahat dengan tenang, kita harus bawa tenda. Supaya kita bisa tidur dengan nyaman dan hangat kita bawa sleeping bag. Jangan lupa bawa matras agar sleeping bag tidak langsung bersentuhan dengan tanah dingin.

Di gunung udara sangat dingin,semakin malam semakin dingin, terlebih lagi bila angin berhembus cukup kencang. Biasanya tenda yang kita bawa tidak cukup melindungi dan menahan angin pegunungan yang dingin, karena itu sleeping bag diperlukan agar kita bisa tidur dengan hangat dan beristirahat dengan nyaman. Karena badan kita bisa istirahat dan kembali fit keesokan harinya. Jangan bawa selimut tebal yang akan memperberat ransel dan menghabiskan ruang diransel.

Di hutan atau gunung tidak ada rumah makan atau warung bakso (berlaku sebelum gunung mulai ramai oleh orang-orang millenial), maka segala kebutuhan makan dan minum harus kita bawa sendiri. Kalau perjalanan pendek kita tidak perlu bawa alat masak seperti kompor dan kawan-kawan. Namun kalau perjalanan panjang 2-3 hari atau lebih,alangkah baiknya kalau kita bawa alat masak. Agar kita bisa memasak dan meramu makanan sesuai selera kita.

Perlengkapan lain yang wajib kita bawa adalah akat komunikasi seperti walkie talkie/radio ht, hp gsm, atau hp satelit kemudian bawa GPS dan peta. Alat ini berguna bila terjadi keadaan darurat, kita tetap bisa berhubungan dengan orang lain, menginformasikan kondisi dan keberadaan kita.

Namun banyaknya barang yang kita bawa dalam ransel mengakibatkan konsekuensi lain, ransel berat akan membebani pendakian kita. Jadi bawa ransel dengan isinya sesuai kemampuan kita. Ransel yang berat tidak hanya akan membebani kita, membuat gerak kita lambat dan membuat tenaga kita cepat terkuras. Akibatnya kita akan lemas,banyak keringat keluar dan bisa mengakibatkan dehidrasi. Bagilah barang bawaan dengan rekan seperjalanan kita, agar berat bisa dibagi, kalau kita bawa tenda biar teman lain bawa alat memasak.

Kita bisa meyeleksi ulang barang bawaan kita, meninggalkan atau mengurangi jumlah yang dirasa tidak penting, seperti mengurangi pakaian cadangan, karena kita tidak akan sering berganti pakaian digunung. Pakaian cadangan biasanya digunakan bila pakaian kita basah. Jadi kalau hanya mendaki 2-3 hari,bawalah satu set pakaian yang terdiri,1 kaos,1 celana panjang pendek,3 celana dalam.

Kemudian kita tidak banya membawa makanan dan minuman kaleng. Bawalah makanan yang dibungkus dalam kemasan plastik atau kertas. Taruh perlengkapan kita seperti sleeping bag,matras dibagian bawah ransel,karena perlengkapan tersebut paling akhir kita pakai. Kemudian taruh diatasnya peralatan masak, bahan makanan dan yang paling atas adalah minuman dan makanan kecil agar mudah kita raih dan makan.

Kemudian letakkan dibagian atas ransel raincoat agar ketika hujan mudah kita kenakan dan juga sweeter dan satu potong pakaian kering. Ketika kita istirahat untuk makan siang,kita bisa mengganti pakaian basah dengan pakaian kering, kemudian kita pakai sweeter agar badan kita tetap hangat.

Hati-hati dengan barang bawaan berupa elektronik seperti, jam, kamera, camcorder, hp, walkman, dan lainnya dari hujan. Masukan dalam plastik kedap air semua peralatan ini, kalau pelican brief case terlalu mahal, kita bisa memakai boxlock and lock yang murahan namun kedap udara apalagi air.

Bila kita tidak ingin kehilangan momen selama pendakian, gantung camera digital atau camcorder dibahu kita (kalau sekarang bisa dengan action cam xiaomi, go pro dll), atau ditempat yang mudah dijangkau, namun jangan lupa siapkan plastik untuk jaga-jaga kalau hujan turun. Ketika mendaki gunung pakailah sepatu, bagus lagi kalau sepatu khusus untuk mendaki gunung atau hiking. Yang didesain melindungi kaki maksimal dengan telapak atau sol yang mampu menapak lebih baik ditanah.

Sepatu juga pelindung kaki dari cidera karena terkilir atau dari benda tajam. Memakai sandal gunung atau sandal jepit sangat beresiko, kaki tidak terlindung dari batu dan kayu tajam, licin dan tidak nyaman ditelapak kaki. Sayangilah kakimu, karena dengan kaki yang sehat, kuat dan tidak sakitlah kita bisa menikmati gunung dengan segala keindahannya.

Kegiatan mendaki gunung adalah aktifitas yang berat, butuh tenaga dan konsentrasi tinggi untuk mengikuti kegiatan ini. Persiapkan badan dengan baik bila mau mendaki gunung. Berolahraga beberapa hari sebelum pendakian adalah persiapan terbaik agar otot terlatih dan daya tahan badan kuat untuk menghadapi fisik yang melekahkan.

Selama air mudah diperoleh selama pendakian, minumlah secukupnya. Dalam keadaan normal saja manusia butuh minum 2-3 liter air sehari, apalagi ketika mendaki yang berat pastinya harus lebih banyak. Karena beratnya aktifitas fisik pastinya banyak mengeluarkan keringat, makanya kita harus gantikan. Kalau tidak maka kepala pusing dan tubuh dehidrasi (keadaan kekurangan cairan). Kondisi ini akan melelahkan bagian organ tubuh lain dan kita akan sakit. Resikonya bukan hanya batalnya pendakian, namun mengancam jiwa pendaki yang sakit.

Kadang kita meremehkan sarapan pagi, karena malas atau ingin cepat-cepat jalan, kadang kita memasak makanan pagi seadanya, cukup mie instan atau makan beberapa potong biskuit saja. Justru pagilah kita harus makan besar, nasi dengan segala lauk pauknya jejalkan ke perut. Karena pagi disaat kita mulai melakukan pendakian kita butuh tenaga atau energi yang semua diperoleh dari karbohidrat (nasi, hevermut, kentang, mie). Kalau makan seadanya, maka badan akan lemas dan kita tidak cukup kuat untuk mendaki. Makan besar kita buat lagi ketika makan siang ,untuk menggantikan energi yang habis selama pendakian setengah hari.

Selama pendakian menemani langkah demi langkah bagus kalau sambil ngemil. Cemilan bisa berupa permen, biscuit, pisang, dodol, gula merah, kacang-kacangan, coklat dan lain sebagainya. Makanan ini mampu menambah energi dan semangat dan membuat selalu ceria...kalau bisa.

Bila malam tiba, maka waktu memasak lebih leluasa, kita bisa berkreasi untuk memasak makanan malam. Namun utamakan memasak makanan yang mengandung protein seperti ayam, telur, ikan. Protein ini dibutuhkan untuk mengganti sel-sel rusak akibat aktifitas pendakian seharian.

Malam hari kita tidak butuh tenaga besar, karena selesai masak kita akan tidur, kecuali kalau memang mau ronda digunung. Karena tidak butuh tenaga maka kurangilah makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi, dan kentang. Karbohidrat yang tidak dibakar karena gerak tubuh maka akan menjadi lemak. Kecuali memang kita punya perut melayu, belum makan, kalau tidak makan nasi, maka silahkan saja makan nasi sampai gembul.

Berjalanlah perlahan dengan langkah pendek ketika menyusuri trek yang menanjak. Lebih baik jalan perlahan, lama, sedikit istirahat dengan jarak tempuh panjang/jauh. Daripada jalan cepat, jarak pendakian pendek dan berulang kali beristirahat. Berjalan perlahan, berguna untuk membiasakan otot dan jantung bekerja dengan stabil dan tidak mengagetkan. Kalau kita masih bisa ngobrol dengan teman seperjalanan kita, berarti kita berjalan perlahan dan nafas tidak memburu. Berjalan cepat, bisa mengakibatkan otot jatung kaget dan otot kaki atau perut bisa kram.

Pilihlah jalan yang datar, lebih baik jalan memutar sedikit daripada memilih trek terjal mendaki, selain lebih aman, juga tidak membuat kaget dan lelah otot kaki. Pilih pijakan kaki yang tidak tinggi untuk mencapai ketinggian. Memilih pijakan tinggi apalagi dengan menggunakan tangan untuk menarik badan,kita memang akan cepat mencapai ketinggian,namun percayalah, cara ini akan membuat tenaga kita cepat terkuras dan cepat lelah. Tidak masalah kalau kamu mempunyai fisik prima dan sering berlatih,tenaga akan cepat pulih. Namun bagi yang tidak mempunyai fisik prima,akan lemas,tidak bertenaga,lama pulih dan bisa jadi pusing,mata berkunang-kunang dan kaki bisa kram.

Cermat memilih pijakan ditanah. Hati-hati dengan akar yang keluar dari tanah atau menyilang ditengah trek. Biasanya akar licin membuat kita tergelincir ketika diinjak. Akar pohon, batu berlumut,atau yang labil dan mudah bergeser lebih baik dihindari dan tidak usah diinjak.

Perhatikan dan konsentrasi penuh ketika meniti batang pohon, gesek-gesek dahulu telapak sepatu ke batu atau kayu untuk melepaskan tanah dan lumpur yang menempel agar tidak licin. Pastikan kayu yang akan kita injak atau kita raih kuat dan tidak rapuh atau mudah patah.
Kencangkan ikatan ransel dipunggung, jangan sampai ransel bergoyang kekiri atau kekanan yang hanya akan mengurangi keseimbangan ketika kita melangkah meniti sebatang kayu. Bebaskan kedua tangan dari barang apapun, kedua tangan nantinya akan kita gunakan untuk keseimbangan.

Pilih pijakan dengan benar dibatang pohon, pastikan kita tidak menginjak bagian berlumut. Melangkahlah dengan tenang tidak usah tergesa,konsentrasi penuh, perlahan namun pasti kita bergerak maju selangkah demi selangkah.

Ketika memanjat dinding tanah yang terjal, pilih tumpuan dengan benar, kalau menginjak batu pastikan batu tersebut kuat dan tidak rapuh, kalau tidak ada batu, kita tendang-tendang tanah hingga berlobang sebagai pijakan.

Untuk pegangan hati-hati bila menggapai batang pohon, pastikan kuat dan tidak mudah tercabut akarnya. Jangan pegang tumbuhan berduri, jangan pegang batang pohon mati, karena besar kemungkinan rapuh dan mudah patah. Kalau batang pohon atau tersebut dirasakan kuat, kita bisa mulai memanjat perlahan.

Pilihlah tempat mendirikan tenda yang nyaman dan aman. Jangan diatas bebatuan tajam, jangan diatas tumbuhan duri, jangan dilokasi aliran air, jangan dibawah pohon besar yang mati, jangan dibadan sungai, jangan merapat didinding batu atau tanah yang rapuh.

Buatlah parit disekeliling tenda untuk menghindari aliran air hujan masuk tenda. Kencangkan kuat-kuat semua tali tenda agar tenda berdiri kokoh dan dinding tenda tidak menampung air hujan. Setelah tenda berdiri kokoh dan kuat,ganti semua pakaian basah dengan pakaian kering.
Sekarang, silahkan masak memasak kemudian tidur nyenyak memulihkan tenaga untuk pendakian keesokan harinya.
Semoga bermanfaat 🙏

Paket trip wisata/pendakian gunung >>> www.agunadventure.com

Kontak BaseCamp pendakian gunung

12:00 Agun Adventure
Monggo disimak ya.

A. JAWA TENGAH


1. Gunung Slamet
BC Bambangan Purbalingga :
- Pak Sugeng  085726000335
- Mas Didin  085726666912
BC Guci  085291182918
- Mas Uceng  085643755398

2. Gunung Sindoro
- 081328096081, 08190386023
- VIA TAMBI 081227967705
HT :148.790 MHz HP
- 081328096081
Via Kledung ( 085643808488 , 085292781090 )

3. Gunung Sumbing
- 085868611446

4. Gunung Lawu
Cetho (danang) 085224675158
cemoro kandang  081575899797
PGL sewu ariz 08156594620

IG: @anakgununglawu

5. Gunung Merapi
BC Selo Boyolali
P. Syamsuri 081329266656

6. Gunung Merbabu
 Kang Aan via wekas 085740540436
ht via wekas 167-740 tun 85.5 duplek 3000
Pak Tono  081325932700
Mas Ando 085329720365

Bc selo pak parman 0878-3635-2260
BC cunthel: 081325757220
BC Tekelan thipuk : 085225552130
BC Swanting: 087745635078 ,087839230300


7. Gunung Ungaran
BC Mawar Bandungan 085729968373

8. Gunung Rogojembangan banjarnegara.
085226528800

9. Gunung Prau
Basecamp Patakbanteng: 085326903444
Basecamp Dieng: 082292760158
Basecamp Wates: 087834093099
Basecamp Kalilembu: 085225152221
Basecamp Dwarawati: 081325755521
Basecamp Kenjuran: 085643206175
Basecamp Campurejo: 085726495918
Basecamp Pranten: 081548611471

B. Jawa Timur


1. Gunung Arjuna-Welirang
VIA TRETES, 085856052510
VIA LAWANG, 081330787722

2. Gunung Argopura
Pak Suryadi 081336017979
Pak Susiono 08113651015

3. Gunung Semeru
Pak Samsul 0341787055
Pak engot 08283930337 , 08282404515

4. Gunung Raung
KPW G.Raung (0332) 321305 / Hp. 081333862244

C. Jawa Barat


1. Gunung Salak
 Pak Dadang , 085724995370 (kawah ratu)

2. Gunung Gede - Pangrango
TNGGP +62263519415 / +62263512776
Pak Usep 081912021180

3. Gunung Ciremai
Basecamp 085724111966
Supriyatna  085759891011

4. Gunung Cikuray  
Kang Hendy :  0812 2026 9190
Dede Rohana :  0821 2083 5884
Kang Dede :  0878 3839 1009
Pak Yudi Kumis :  0811 1393 49

5. Gunung Papandayan 
Basecamp 085784414211

D. NTB (Nusa Tenggara Barat)


1. Gunung Rinjani
Pengelola Dephut (0370) 27851 ,  (0370) 627764
Mas Lihun 085367588494

E. Sumatera

1. Gunung Kerinci -jambi
BTNKS (0748)22250
pudjakusuma adventure 087793260010 / 082269537175
igun 0823-7370-5646
anggi 0822-7822-9120

2. Gunung Rajabasa 
Via Sumur Kumbang (Lampung selatan)
Gondrong 081997418863
Ardi  081928212928

3. Gunung MARAPI dan Gunung SINGGALANG sumatra barat
Deni Via KOTO BARU 085214034450

F. SUMBAWA

1. Gunung Tambora
081915830479
ABDUL HARIS 085237884768

TAMBAHAN
Info transportasi antar jemput basecamp PP, guide gunung & porter, dll se-jawa tengah
08157988254

Obat-obatan yang wajib dibawa saat mendaki gunung

13:00 Agun Adventure
Obat-obatan merupakan item yang wajib dibawa saat melakukan perjalanan mendaki gunung. Kenapa obat-obatan penting? Karena kita harus selalu siap sedia jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti sakit, cidera, terkilir di dalam mendaki gunung, agar perjalanan pendakian kita sukses, lancar, aman dan sehat juga tentunya. Oke kalau begitu kita langsung bahas saja, apa sih itu obat-obatannya yang wajib kita bawa.

Obat-obatan yang wajib dibawa saat mendaki gunung

1. Obat Demam

Di gunung yang sejatinya adalah alam terbuka dan liar serta suhu udara yang dingin sangat memungkinkan tubuh kita dapat terkena demam.Demam bisa datang pada saat Anda terlalu lelah atau kurang istirahat. Biasanya, menyerang pada saat malam hari. Jangan sampai Anda kerepotan mencari obat demam pada tengah malam. Masukkan obat ini ke dalam daftar wajib bawaan Anda. Biasanya saya membawa Paracetamol yang ampuh untuk menurunkan demam.


2. Obat Sakit Kepala

Berada di luar ruangan seharian tentu akan membuat stamina tubuh menurun. Apalagi daerah tujuan petualangan Anda adalah tempat yang panas. Sakit kepala pun tidak terhindarkan. Selain panas, pusing juga bisa disebabkan karena mabuk perjalanan. Sediakan obat ini untuk berjaga-jaga saat kepala mulai tidak bersahabat. Obat sakit kepala mudah sekali didapat di warung terdkat rumah anda.


Open Trip Dieng Culture Festival 2022 klik link;
https://www.agunadventure.com/p/open-trip-dieng-culture-festival-2022.html


3. Jamu Masuk Angin

Masuk angin adalah penyakit klasik yang semua orang pernah alami. Rasanya tidak enak, mual dan pusing. Anda pun tidak bisa melakukan apa - apa saat sedang terkena masuk angin. Penyakit ini biasanya disebabkan karena terkena angin terlalu lama, perut yang kosong dan kondisi badan yang sedang menurun. Beberapa merk jamu sudah membuat jamu masuk angin yang mudah untuk dibawa. Ada yang cair, bubuk, bahkan permen. Jamu masuk angin pun sudah mudah ditemui di warung, toko obat atau supermarket.

4. Obat Sakit Perut

Sakit perut bisa timbul karena salah makan, telat makan, dan penyakit maag. Jika Anda tidak terbiasa makan terlalu pedas atau terlalu asam, perut pun akan bergejolak. Akibatnya, perut akan mulas, maag kambuh atau bahkan diare. Jangan sampai Anda tersiksa terlalu lama karena tidak punya obat sakit perut. Selalu bawa obat perut saat Anda berpetualang. Masukkan di dalam tas dan Anda pun bisa berkegiatan dengan aman. Obat sakit perut bisa anda dapatkan di warung terdekat rumah anda.

5. Vitamin dan Madu

Agar tetap sehat, Anda memang perlu vitamin, terutama vitamin C. Saat ini, vitamin bisa dibeli dalam berbagai macam jenis. Ada vitamin hisap, cair dan tablet, tinggal pilih. Selain vitamin, salah satu pendukung kesehatan lainnya adalah madu. Madu bisa membantu menjaga kesehatan, juga bisa sebagai penahan lapar. Rasanya yang manis juga membuatnya bisa dicampur dengan susu atau teh. Jadi, Anda pun bisa sehat dalam cara yang menyenangkan, bukan?

6.  Plester dan Alkohol

Perjalanan backpacker atau mendaki gunung sama-sama memiliki risiko terluka. Terantuk batu atau tergores dahan bisa jadi salah satu kemungkinan Anda mendapat luka. Meski kecil, luka terbuka cukup berbahaya jika tidak segera diobati. Untuk pertolongan pertama, Anda bisa membasuh luka dengan alkohol 70 persen dan kemudian menutupnya dengan plester. Pastikan Anda tidak lupa membawa dua barang penting ini saat perjalanan petualangan.

7. Minyak Kayu Putih

Barang terakhir yang tidak kalah penting adalah Minyak kayu putih. Kegunaannya yang banyak membuat obat ini menjadi barang wajib bawa saat perjalanan. Minyak Kayu putih bisa menjadi penolong saat sedang kembung, udara dingin, terkena gigitan serangga dan obat saat mabuk perjalanan.

8. Acetazolimide / Diamox

Cara kerja obat ini adalah dengan mengurangi tekanan cairan dalam tubuh. Acetazolimide bisa membantu pendaki tidur soalnya obat ini mengurangi gejala sesak napas di tempat tinggi. Tidak hanya itu, Acetazolimide juga berfungsi mengurangi sakit kepala dan mual yang disebabkan oleh HACE ( High Altitude Cerebral Oedema ) atau kondisi otak yang dipenuhi cairan terlalu banyak.
Dosisnya 125 mg ( setengah tablet Diamox 250 mg ) setiap 12 jam. Obat ini berefek samping kesemutan di tangan dan kaki ( tetapi tidak berbahaya ), selain itu pipis juga jadi lebih banyak.
Buat yang alergi sama sulfur sebaiknya jangan konsumsi obat ini, karena Acetazolimide mengandung unsur belerang ( sulfur ).

9. Deksametason

Obat ini bisa mengurangi gejala AMS - HACE terutama yang di sebabkan karena kurangnya aklimatisasi, seperti kepala pusing yang berat dan berkepanjangan serta gangguan keseimbangan badan.

10. Nifedipine

Obat yang biasa dikonsumsi oleh penderita hipertensi ini juga bisa mengurangi tekanan berlebih dalam pembuluh darah arteri dan paru-paru. Dosis untuk awal adalah 10 mg per 8 jam.

Ketiga obat nomer 8 sampai 10  tergolong obat yang memerlukan resep dokter. Alangkah baiknya kalau Anda periksa dahulu ke dokter. Perlu dicatat, obat-obatan tadi sifatnya hanya untuk mengurangi gejala AMS, bukan menyembuhkan. Jadi sebaiknya setelah mengkonsumsi Anda turun saja dahulu. Tunda dahulu sampai sehat. Tetapi jika masih ingin tetap mau mendaki, maka Anda harus melakukan aklimatisasi.

Itulah beberapa obat-obatan yang wajib dibawa saat mendaki gunung. Informasi diatas saya dapatkan dari berbagai sumber, semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua serta menambah wawasan.

Baca juga :
Mengenal Jenis Gunung dan Grade Pendakian
Catatan Anak Gunung : Seandainya gunung bisa berbicara
Hal yang harus diperhatikan dalam PENDAKIAN GUNUNG
Tips Perencanaan Memilih Jalur pendakian....

Mengenal Jenis Gunung dan Grade Pendakian

11:01 Agun Adventure
Pada garis besar gunung terbagi menjadi 2, yaitu gunung berapi/aktif dan tidak
aktif. Berdasar bentuknya dibagi menjadi :

1. Gunung berapi perisai (Gunung berapi lava) == seperti perisai
2. Gunung berapi strato
3. Gunung berapi maar == Gunung berapi yang meletus sekali dan segala aktivitas
vulkanisme terhenti, dan yang tertinggal hanya kawahnya saja.


Mengenal Jenis Gunung dan Grade Pendakian
Spoiler pict "Sabana merbabu

Macam dan tingkat pendakian gunung, yaitu pendakian gunung
bersalju (es) dan gunung batu. Keduanya mambutuhkan persiapan dan perlengkapan
yang matang. Menurut Club “Mountaineers”, Seatle Washington, dasar pembagian
tingkat pendakian ada dua cara, antara lain:

1. Berdasar penggunaan alat teknis yang dipakai ( class)


• kelas 1 ; lintas alam tanpa bantuan tangan
• kelas 2 ; dibutuhkan bantuan tangan
• kelas 3 ; pendakian yang mudah memerlukan kaki dan tangan dalam mendaki,
tali mungkin dibutuhkan oleh pemula
• kelas 4 ; pendakian memerlukan tali pengaman
• kelas 5 ; dibutuhkan tali dan pengaman peralatan lain seperti : piton,
runner, chocks dll
• kelas 6 ; mendaki dengan tali dengan peralatan bantuan sepenuhnya berpijak
diatas paku tebing, memanjat rantai sling atau mengunakan stirupss

Pendakian kelas 4 masuk dalam katagori scrembling [Mendaki dengan cara
mempergunakan badan sebagai keseimbangan serta tangan untuk berpegangan dengan
medan yang miring sampai 45 derajat] dan kelas 5 – 6 sudah dapat dikatagorikan
sebagai climbing [panjat]. Dimana kelas 5 merupakan free-climbing [Pemanjatan
dengan tanpa menggunakan alat tehnis untuk menambah ketinggian, alat hanya sebagai
pengaman saja ] dan kelas 6 adalah artificial climbing [Pemanjatan dengan
menggunakan alat tehnis sebagai pembantu menambah ketinggian, misalnya dipijak
atau disentak dan dipegang ]. Apa bila dilakukan di gunung batu / cadas disebut
rock climbing dan bila dilakukan di gunung es disebut dengan snow and ice climbing
.

Open Trip Dieng Culture Festival 2022 klik link;
https://www.agunadventure.com/p/open-trip-dieng-culture-festival-2022.html

2. Berdasar lama waktu akibat sukarnya pendakian dalam medan pendakian (grade)


• grade I, bagian yang sukar dapat ditempuh dalam beberapa jam
• grade II, bagian yang sukar ditempuh dalam setengah hari
• grade III, bagian yang sukar ditempuh dalam sehari penuh
• grade IV, bagian yang sukar ditempuh dalam sehari penuh dan memerlukan
bantuan lereng-lereng sempit untuk bisa naik
• grade V, bagian yang sukar ditempuh dalam waktu 1,5-2,5 hari
• grade VI, bagian yang sukar ditempuh dalam waktu 2 hari atau lebih dan
dengan banyak sekali kesulitan



3. Berdasarkan tingkat keamanan pemanjat dari kemampuan alat yang digunakan


• A1 ;aman sekali, peralatan yang dipasang dan digunakan dapat diandalkan
untuk menjaga keselamatan pendaki
• A2 ;aman, jikapun terjadi masalah, alat masih dapat diandalkan untuk
mencegah akibat yang lebih fatal [misalnya jatuh tidak sampai kedasar]
• A3 ;penggunan alat pengaman cukup aman tetapi tidak dapat diandalkan untuk
menjaga resiko jatuh, kecuali dengan pemasangan yang sangat teliti dan fall-faktor
yang tidak terlalu berbeban tinggi. Bila fall faktor tinggi, maka alat-alat akan
copot dan pendaki bisa menerima akibat fatal
• A4 ;pengaman yang digunakan tidak dapat diharapkan untuk dapat menahan beban
jatuh, cenderung hanya sebagai pengaman psykologis untuk menguatkan mental pendaki



4. Berdasarkan tingkat kesulitan [difficult] medan pendakian


Tingkatan pedakian dengan dasar perhitungan ini bisa disebut juga dengan Yossemite
Decimal System [YDS]. Pang-katagorian berasal dari USA dan saat ini banyak di
gunakan untuk menentukan grade kesulitan panjat tebing. Oleh karena itu YDS
dimulai dengan grade 5 dan seterusnya. Pengkatagorian demikian biasanya digunakan
untuk jenis pendakian free-climbing atau free-soloing [Memanjat sendiri tanpa alat
bantu dan pengaman apapun, biasanya pada jalur pendek]
Anehnya YDS sendiri menyalahi kaidah matematis penghitungan decimal, dimana
misalnya suatu jalur mempunyai ketinggian 5,9 [lima point sembilan] lalu grade
selanjutnya menjadi 5.10 [lima point sepuluh]. Peng-angka-an ini menjadi “aneh”
akibat grade 5.9 lebih rendah dibanding dengan 5.10, padahal dalam matematika
sebaliknya.


YDS sendiri diawali dengan grade 5.8 atau 5.9, selanjutnya 5.10, 5.11, 5.12, 5.13
dan 5.14. Sampai saat ini tidak ada grade melebihi 5.14.

Perkembangan keanehan peng-angka-an decimal ini menurut beberapa diskusi pegiatan
pendakian dan panjat tebing akibat keselahan memprediksikan kemampuan pendakian
pada saat system YDS dipublikasikan. Dimana pada saat itu diperkirakan kemampuan
pendakian / panjat hanya sampai grade 5.9. Padahal dalam kemudian berkembangan
kemampuan pendakian / pemanjatan yang lebih mutakhir dan luar bisa.
Bahkan saking sulitnya menentukan dengan hanya angka-angka decimal yang terbatas,
seiring dengan banyaknya jalur pendakian/pemanjatan yang dibuat oleh kalangan
pemanjat, maka grade decimalpun ditambahkan dibelangkannya dengan alfhabet.
Contoh; 5.12a, 5.13 d atau 5.14 c


Memang sampai saat sekarang barangkali hanya ada beberapa jalur yang dibuat
manusia dengan grade 5.14, itupun terbatas pada jalur-jalur pendek.
Secara umum grading dengan YDS dapat dijelaskan sebagai berikut :
• 5.8 ; jalur yang ditempuh mudah, grip [pegangan] sangat bisa digunakan oleh
bagian tubuh yang ada untuk menambah ketinggian
• 5.9 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3 bertahan 1 mencari
• 5.10 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3 bertahan 1 mencari, hanya saja
perlu keseimbangan [balance] yang baik
• 5.11 ; dapat bertahan pada 2 atau 3 grip dengan satu diantaranya sangat
minim dan perlu keseimbangan. Jalur hang hampir bisa dipastikan memiliki grade
demikian.
• 5.12 ; terdapat 2 dari 2 kaki dan 2 tangan yang dapat digunakan untuk
menambah ketinggian. Dengan kondisi grip yang kecil di satu bagiannya atau paling
tidak sama
• 5.13 ; hanya 1 dari diantara 2 kaki dan 2 tangan yang dapat digunakan untuk
menambah ketinggian, itupun dengan grip yang sangat minim.
• 5.14 ; “mulus seperti kaca”, tidak mungkin terpikirkan untuk dapat dibuat
jalur pendakian/pemanjatan


Makanan (logistik)
Makanan yang dibawa seharusnya dapat memenuhi kebutuhan energi pendaki, selama
pendakian seserorang membutuhkan sitar 5.000 kalori dan 100 gram protein, kalori
dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi nasi. Namun ada baiknya hanya memakan nasi satu
kali sehari di kala malam (saat berkemah) alasayanya beras realtif berat dan
memerluakan waktu yang lama untu memasak serta menghabiskan banyak bahan bakar.
Fungsi beras dapat diganti dengan roti, biskuit, coklat, dan hevermit.
Hal yang perlu diperjatikan hindari mengkonsumsi makanan yang harus dimasak lebih
dahulu selama mendaki, karena hal ini hanya akan merepotkan dan menghabiskan waktu
perjalanan. Pilihlah makanan praktis seperti coklat, roti, agar-agar, buah-buahan,
dapat juga dibuat mixfood yang terdiri atas kacang, coklat, biskuit dan kismis.
Umumnya makanan yang paling praktis dibawa adalah makanan instan yang memiliki
kemasan, buanglah kemasan karton sebelum dimasukan dalam ransel dengan demikian
berat ransel dapat berkurang dan makanan yang dibawapun tidak banyak memakan
tempat didalam ransel.


Peralatan lain
Selain peralatan dan sejumlah perlengkapan, jangan lupa membawa perlengkapan kecil
yang terdanag dirasa sepele, namun amat penting. Perlengkapan itu berupa obatobatan
seperti pelester, obat merah, tisu basah dan kering, senter, benang, jarum
jahit, jam dan alat tulis. Peralatan itu terkandang dibutuhkan dalam keadaan
darurat atau menjaga tubuh tetap bersih.
Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah jangan lupa membawa tas / kantong
plastik, tas plastik tersebut dibutuhkan untuk menaruh barang-barang yang kotor
dan basah sebelum dicuci dan tas plastik juga berfungsi untuk membawa kembali
sampah-sampah pendakian, sampah-sampah sisa makanan atau berkemah, janganlah
dibuang begitu saja di alam terbuka. Selain megotori, membuang sampah dapat
menyulitkan usaha pencarian dan pertolongan bagi pendaki yang tersesat atau
mengalami kecelakaan, kerap kali usaha pencarian oarang tersesat terbantu dengan
petunjuk dari barang-barang yang tercecer.

Baca juga :

Mendaki Memakai Celana Jeans, bolehkah...?
Ultralight yang benar : Alat yang terbaik dengan berat paling ringan
Catatan Backpacker : Tips Bagi Yang Tidak Bisa Bahasa Asing