Tips Bagi Yang Tidak Bisa Bahasa Asing

10:00 Agun Adventure
Bagaimana caranya mengatasi kendala ketika kita jalan-jalan di daerah asing yang hanya mengenal bahasa setempat sementara kita buta bahasa tersebut? Silakan coba kiat-kiat berikut:
Spoiler gambar
Bahasa isyarat

Bahasa isyarat adalah sarana paling efektif sebagai jembatan bagi dua pihak yang tidak saling memahami bahasa yang dipakai lawan bicaranya. Namun kadangkala ada isyarat tertentu yang tidak sama bahkan bertentangan artinya di dua wilayah. Misalnya gelengan kepala di India. Untuk kita di Indonesia dan bangsa lain pada umumnya, memiliki arti “tidak”, padahal di India bisa berarti “ya” tergantung model gelengannya.

Banyak senyum

Senyum adalah bahasa universal. Memperlihatkan keramahan terutama di tempat asing di mana bahasa menjadi kendala sangatlah penting. Kalaupun orang-orang tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, setidaknya mereka mendapat kesan bahwa Anda ramah, bersahabat dan tidak punya maksud jahat. Tapi juga jangan berlebihan, bisa-bisa Anda dikira gila.

Memberi contoh

Bila Anda membutuhkan atau ingin membeli sesuatu, tunjukkan contoh barang yang Anda maksud. Misalnya Anda ingin meminta tisu gulung pada petugas penginapan, tunjukkan tisu atau gulungannya sebagai contoh. Kalau Anda pada posisi tidak mungkin memberi contoh barang seperti ingin membeli ayam goreng di rumah makan, tirukan saja bunyi kokok ayam sambil mengepak-kepakan kedua tangan.

Referensi gambar

Alternatif lain untuk menyampaikan apa yang diinginkan adalah dengan menunjukkan gambar. Anda dapat menunjukkan gambar dari koran, majalah, atau jika mampu menggambar dengan cukup baik, bisa Anda gambarkan di secarik kertas. Bahkan Anda bisa menggunakan fasilitas lain seperti foto dalam ponsel, billboard, atau poster yang ada di sekitar.

Ditulis

Beberapa hal akan lebih baik dikomunikasikan dengan cara ditulis. Contohnya jika ingin memberi tahu supir taksi untuk mengantar Anda ke suatu tempat. Beberapa bahasa sangat sensitif dengan pengucapan dan intonasi. Beda intonasi bisa menimbulkan arti yang berbeda pula. Dengan menuliskan tempat yang Anda maksud, kesalahpahaman lebih mudah dihindari. Bila Anda berjalan-jalan di Cina, misalnya, akan lebih mudah menunjukkan brosur tempat yang akan dikunjungi atau Anda bisa minta tolong petugas penginapan untuk menuliskan alamat yang dituju dengan huruf setempat.

Menggunakan alat bantu

Ketika membicarakan angka atau harga, sebenarnya paling mudah dengan cara ditulis. Bila kondisi tidak memungkinkan alias tidak ada alat tulis, Anda bisa menggunakan alat bantu seperti kalkulator atau ponsel. Apalagi jika angka yang dibicarakan menyangkut angka desimal, kalkulator dan ponsel adalah solusi terbaik.

Hafalkan kata-kata penting

Sebaiknya Anda menghafal beberapa kata yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari seperti maaf, tolong, terima kasih, kamar kecil, di mana, naik apa dan sebagainya. Kalau terlalu sulit untuk diingat semua, buat catatan untuk digunakan saat diperlukan.

Meminta bantuan

Ketika kesulitan komunikasi sangat parah dan semua tips di atas tidak membantu, saatnya Anda mencari bantuan dari sekeliling. Salah satu caranya dengan mencari seseorang yang kelihatannya cukup terpelajar, misalnya orang berkacamata dan memakai jas rapih. Setidaknya ia mampu menangkap bahasa isyarat atau cara-cara lain yang Anda gunakan karena umumnya orang dengan pendidikan yang cukup baik, terbiasa berpikir nalar dan lebih mudah menerima common sense.


Ada lagi satu kiat andalan saya. Kalau ke negara yang tidak bisa berbahasa Inggris, ya kita berbicaralah dalam bahasa Indonesia! Bahasa Inggris aja mereka nggak ngerti, jadi ngapain kita repot-repot ngomong bahasa Inggris juga? Hehe!

Baca juga :
Catatan anak gunung: The Amazing Mount Bisma Dieng
Indahnya Surga tersembunyi Curug Sirawe - Dieng
Belajar bahasa inggris bersama ibu-ibu homestay

Indahnya Surga tersembunyi Curug Sirawe - Dieng

17:06 Agun Adventure
Curug Sirawe berada di dataran tinggi Dieng dengan memiliki ketinggian sekitar 80m.  Air yang jatuh dari curug ini menimpa bebatuan dan membentuk kolam kecil di bawahnya.
Curug Sirawe
  • Mata air berasal dari wilayah Banjarnegara, tepatnya dusun Bitingan, desa Kepakisan, Kecamatan Batur
  • Air yang mengalir manjadi curug sudah masuk wilayah Batang, tepatnya dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang
Karena proses pemikiran tersebut curug Sirawe jatuh ke pangkuan Batang. Tetapi pihak Batang tidak serta merta membangun sarana dan prasarana yang menunjang aktivitas pariwisata di tempat ini, apalagi mempromosikanya. Curug ini dibiarkan saja seperti aslinya. Mungkin Batang sudah berpikir antara anggaran yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang akan didapat. Tetapi entah nanti jika Batang berubah pikiran :). Jika dipikir, untuk membangun proyek besar ini sebagai obyek wisata yang potensial di kabupaten Batang, maka Batang harus memperbaiki jalan antara Bawang – Bintoro – Sigemplong, atau jalan antara Bawang – Pranten – Sigemplong dan jembatan di selatan desa Pranten yang entah bagaimana kabarnya :)
Berbicara akses ke curug Sirawe, ada 2 jalur yang bisa dilewati. Pertama jalur Pawuhan (Geodipa) – Siglagah – Sigemplong. Dari Pawuhan dihadapkan jalanan aspal dan cor beton yang mengelupas. Sesampai Sigemplong kendaraan berhenti disini, dilanjut dengan jalan kaki ke atas desa, ke lereng gunung Sipandu. Kemudian menyusuri jalan setapak alternatif penghubung desa Sigemplong dan desa Bitingan. Jalur ini sulit dan jauh. Akan lebih sulit dan berbahaya di musim hujan.
Jalur kedua bisa lewat Kepakisan – Kawah Sileri -  Bitingan. Jalur ini lebih dekat dari jalur Sigemplong. Jalanan aspal mengelupas tetap bisa dijumpai dari pertigaan kawah Sileri sampai desa Bitingan. Sampai desa Bitingan semua kendaraan berhenti, menuju curug dilanjut dengan jalan kaki.
Kedua jalur tersebut sama sulitnya ketika memasuki turunan curug Sirawe, terlebih jika musim hujan.
Mengenai hal lain, curug ini gabungan dari air panas dan air dingin serta 2 air terjun yang berjejer. Air panas berasal dari proses geothermal di pegunungan Dieng, dan air dingin dari sungai biasa. Yang saya lihat, disekitar curug masih terjaga hutan heterogen khas dengan pohon pohon besarnya.
Setelah dari sini bisa melanjutkan perjalanan ke arah barat ke Telaga Merdada. Sebelumnya sempatkan pula mampir di Kawah Sileri yang baru-baru ini meletus. Tenang, letusan ini tidak tampak menimbulkan kerusakan yang berarti. Telaga Merdada merupakan telaga terluas di kawasan dengan luas 25 ha dan kedalaman 2-10 meter. Telaga ini juga masih berda di kawasan kabupaten banjarnegara. Telaga Merdada indah dan bersih, akan tampak beberapa orang yang memancing disana.


kak ayu

kak anri

Aksesbilitas

Perjalanan menuju curug dapat ditempuh dengan motor dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Jalan menuju curug belum terjamah aspal sehingga perjalanan akan perlu perjuangan. Begitu pula saat harus berjalan kaki menuju curug. Jalan setapak di dalam hutan yang masih rimbun cukup menyulitkan namun tetap bisa dilalui. Setelah hampir setengah jam berjalan akan mulai terdengar suara air mengalir deras


Kami pun segera berkemas. Sebelum berangkat, kami berembuk memilih jalur yang bakal ditempuh. Pertama, menggunakan jip dari Dukuh Pawuhan menuju Dukuh Bitingan, Desa Kepakisan, Batur Banjarnegara. Dari tempat itu, perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki menuju air terjun, lalu ke hutan perawan, kemudian Dukuh Sigemplong (Kabupaten Batang) dan berakhir di Kecamatan Bawang, Batang.

Jalur kedua, langsung berjalan kaki dari Dukuh Pawuhan menuju Dukuh Rejosari-Dukuh Sigemplong (keduanya masuk wilayah Kabupaten Batang), Air Terjun, Hutan Perawan, dan berakhir di Kecamatan Bawang.

Saat itu kami putuskan untuk memilih jalur pertama. Pagi itu jip yang kami tumpangi meluncur pelan, menyusuri jalan utama menuju Desa Kepakisan. Jalur yang kami pilih memang tidak dilewati angkutan umum. Dari pertigaan Dukuh Simpangan, Karangtengah, angkutan yang tersedia menuju Kecamatan Batur via Desa Kepakisan-Pekasiran hanya berupa mobil sayur dan ojek.

Semula jalan yang kami lalui mulus-mulus saja. Tantangannya juga tidak seberapa. Paling hanya ada tanjakan dan turunan tajam. Tapi benar, setelah itu medannya berat. Ketika Mulai berbelok di jalur menuju ke Dukuh Bitingan, jalan sudah tidak beraspal lagi. Jip yang mengantar kami juga harus merambat lebih pelan dan berhati-hati ketika menyusuri jalan berbatu menuju hutan perawan.

Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak untuk menyaksikan Kawah Sileri. Kawah dengan areal yang cukup luas itu sudah masuk kawasan Dukuh Bitingan. Kawah disebut Sileri karena airnya berwarna putih, seperti air cucian beras (leri). Kepulan asap panas bumi yang muncul dari dalam kawah terlihat begitu menawan. Di sana juga tersedia semacam shelter untuk wisatawan.

Setelah puas, kami segera melanjutkan perjalanan. Kanan-kiri jalur masih berupa lahan kentang. Belum juga terlihat tanda-tanda ada hutan perawan di kawasan tersebut.

Beberapa saat kemudian, sampailah kami di Dusun Bitingan. Dari tempat itu, jip yang kami gunakan, tidak bisa meneruskan perjalanan dan harus kami titipkan kepada warga setempat. Perjalanan menuju hutan perawan kami lanjutkan dengan berjalan kaki.

Melawati jalan setapak di tengah lahan kentang, pandangan kami masih mencari di mana jalur menuju hutan perawan tersebut. Memang terlihat dari atas, tiga air terjun ada di kawasan itu. Namun jalur menuju tempat yang dimaksud itu tidak mudah ditemukan.

Ternyata jalurnya memang agak "tersembunyi", tertutup oleh rerimbunan ilalang dan sulur pohon rotan. Jalan juga mulai menurun, mengikuti lereng Gunung Sipandu.

Pemandangan nan menawan hati dan membuat saya berdecak kagum terdapat di balik rerimbunan semak tersebut. Sebuah terowongan alam yang tersusun dari puluhan bahkan ratusan sulur pohon rotan, seakan menjadi gerbang penanda bahwa kami mulai memasuki kawasan hutan.
***
Foto bareng (yang pake baju putih namanya kak nitha)

PERJALANAN menuju Curug Sirawe memang bak memasuki dunia baru, kawasan yang jarang dilewati orang dan jauh berbeda dari kondisi Dataran Tinggi Dieng pada umumnya. Yang ada hanya berupa jalan setapak. Bahkan tak jarang, beberapa ranting atau semak menutup jalur yang akan kami lalui.

Pemandangan yang terpampang di sepanjang jalur sungguh membuat kami merasa seperti tidak berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Kawasan tersebut benar-benar tertutup rapat oleh hutan. Pandangan pun terbatas oleh pohon-pohon besar dan berbagai macam tanaman. Posisinya yang berada di lereng terjal, membuat kawasan itu belum "tersentuh" oleh pertanian intensif.

Beberapa puluh menit kemudian, kami pun hampir mencapai Curug Sirawe. Jalanan semakin terjal, bahkan kami harus benar-benar hati-hati agar tidak terpeleset. Jalur itu memang seperti jalur saat kita turun gunung. Bagi kami, tantangan itulah yang semakin menarik untuk ditelusuri. Terlebih saat air terjun sudah mulai tampak. Gemericik suara curug yang bersumber dari gabungan mata air dingin dan panas itu, membuat hati ingin cepat-cepat tiba di sana.