Eksotisme bukit pangonan (miniatur bukit telletubbies)

16:00 Agun Adventure
Dieng terkenal dengan keindahan alamnya. Kawasan Wisata yang dikelilingi pegunungan dan perbukitan ini sarat akan panorama-panorama indah khas pegunungan hijau dan asri yang masih alami sehingga cukup menantang untuk dijelajah.


bukit pangonan



Beberapa Gunung di Dieng memang sudah sangat familiar. Nama Prau, Sikunir, dan Pakuwaja tentu sudah akrab bagi mereka yang hobi mendaki. Keistimewaan Pemandangan Sunrise di Dieng yang beda dari yang lain menjadi salah satu daya tarik yang terus menyedot para pengunjung untuk datang dan menjelajahi daerah Pegunungan Dieng ,Negeri di atas Awan.
Namun apakah anda cukup familiar dengan nama Bukit Pangonan Dieng? mungkin beberapa diantara anda sudah pernah mendengar atau bahkan menjelajah bukit pendek di selatan kawasan wisata Dieng ini. Tapi bagi anda yang masih asing mari kita kenalan dengan Bukit yang memiliki padang Savana Hijau indah ini.
Bukit Pangonan Dieng dulunya merupakan kawasan Hutan rimbun yang dipenuhi pepohonan dan tanaman Perdu seperti Gelonggong,  Pringgondani, Daun Dores serta tanaman Semak Purwaceng yang kini dibudidayakan oleh masyarakat Dieng sebagai minuman kesehatan.
Jalur ke Pangonan bisa dimulai dari atas Museum Kailasa, melintasi perladangan penduduk hingga sampai ke areal yg masih rimbun untuk kemudian menyusuri jalan setapak kecil dan licin saat musim hujan dengan sesekali harus menyibak tumbuhan semak yang menghalangi jalan serta jurang curam di kiri jalan sehingga Butuh ekstra hati-hati agar perjalanan ke puncak Pangonan bisa ditempuh dengan Selamat.
Pemandangan Lanskap Desa Dieng yang indah akan menjadi teman perjalanan yang menyenangkan saat mendaki Bukit Pangonan. Perkampungan Dieng dilihat dari ketinggian tampak indah penuh kesan alami, harmonis dan damai.
Sesampai di Puncak Pangonan anda akan menjumpai semacam ceruk luas yang dulunya adalah Telaga Semurup. menuruni Cerug tersebut terdapat hamparan Padang Savana indah yang tumbuh dibekas telaga.
Dari arah Barat Bukit Pangonan anda juga bisa melihat pemandangan Telaga Merdada dari atas bukit.





NOTED* gambar di ambil dari berbagai sumber

Belajar bahasa inggris bersama ibu-ibu homestay

18:50 Agun Adventure
Yosh mungkin ini sedikit "out of topic" dari catatan yang biasanya, disini saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya waktu mengikuti pelatihan bahasa inggris yang diselenggarakan oleh ibu-ibu homestay selama 2 minggu kemarin.
Spoiler "miss veggy putri astuti"

yapps to the point ajah ya... sebenarnya pelatihan ini diselenggarakan untuk para ibu-ibu homestay untuk pengembangan SDM dari masyarakat lokal, tetapi berhubung sang ketua suku A.K.A ketua paguyuban homestay (ibu thina) memperbolehkan siapa saja untuk ikut bergabung dalam pelatihan tersebut alhasil saya jadi mengikuti pelatihan tersebut "ya lumayanlah buat nambah ilmu mimin di dunia pariwisata (khususnya dalam bahasa asing).

Pelatihan ini sendiri dimulai pada tanggal 2 februari 2018 kemarin, pas pertama saya datang jujur masih bingung harus apa karena memang itu adalah hari pertama, niatnya pas pertama kali datang cuma mendengarkan dan mengikuti arus cuma karena gara-gara teman mengajak ngobrol akhirnya ke gap juga sama tutornya "suruh memperkenalkan diri pakai bahasa inggris" ahahahaha siall.
Precentation "photo by miss veggy"

Tim HORE

Oiya gengs tutornya pas pelatihan ini tu cewek masih muda ya kisaran 23-24 tahun lahh beda dikit sama mimin wkwkwk, namanya lengkapnya "veggy putri astuti" biasa di panggil "veggy" asli dari lombok, kalian bisa cek profilnya di link berikut https://www.instagram.com/mbakegot/
Miss veggy ini orangnya supel banget, enak diajak ngobrol, dan yaa masih banyak lagi

Selama pelatihan pun banyak sekali diselingi dengan becanda engga jelas hahaha,, ya walaupun saya sendiri tidak setiap hari berangkat karena banyak sekali kesibukan... tapi itu cukup untuk membuat semuanya akrab
Jalan-jalan "Musium kailasa"
Menunggu matahari terbit di bukit sikunir "edisi kabut"

Namanya jauh-jauh dari lombok tetap ada liburannya walaupun cuma sebentar, ya itulah resiko yang harus aku tanggung huhuhu karena dari semua partisipan cowok hanya saya yang sering berangkat, karena itu juga akhirnya pada suatu sore sepulang les bahasa inggris, ibu-ibu homestay menyuruh saya mengantar miss veggy jalan-jalan.

Sebenarnya mau ngga mau nganterin miss veggy jalan-jalan (ceritanya grogi) hahaha karena saya sendiri sangat jarang bahkan hampir tidak pernah jalan sama cewek berdua,, naik motor lagi hahaha, ditambah lagi selama itu juga miss veggy minta ngobrol pakai bahasa inggris hahaha sial LOL "tapi seru juga walaupun banyak ngga nyambungnya (paham cuma mau jawab pakai bahasa inggris belum bisa)
Catching the sun

I kiss the sun "kata miss veggy di instagramnya"

Sempat ke sikunir juga untuk sekedar hunting sunrise (ceritanya pengejar matahari) cuma karena berhubung waktu yang tidak memungkinkan (karena kesibukan masing-masing) jadi cuma beberapa objek wisata saja yang bisa dikunjungi

Selama pelatihan pun partisipan yang hadir pun bisa dihitung dengan jari yahh yang jelas karena kesibukan masing-masing, yang pasti selama pelatihan ini banyak sekali kesan-kesan yang didapatkan dan dari pelatihan ini juga bisa menjadi modal kedepannya bagi mereka yang hadir selama pelatihan (termasuk saya)
Ngga tau dahh model apaan

Besar harapan dari saya dalam pelatihan ini bisa menjadi batu loncatan untuk kemajuan pariwisata dieng, aammiinn...........

Semoga kita semua bisa cepat berjumpa kembali CC (semua partisipan dalam acara ini) untuk sekedar sharing dan lain-lain........

Yaps mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan dalam tulisan kali ini........
sampai jumpa lagi dalam tulisan selanjutnya.........

We will miss you mis veggy :D.........

PS: to miss veggy,, someday if you can go to dieng again you must try to african savanna in dieng and sirawe waterfall,, trust me.....

Baca juga :

Catatan Sejarah : Candi-candi yang berada di kawasan Dieng

12:43 Agun Adventure
Candi Dieng merupakan kumpulan candi yang terletak di kaki pegunungan Dieng, Wonosobo, Jawa tengah. Kawasan Candi Dieng menempati dataran pada ketinggian 2000 m di atas permukaan laut, memanjang arah utara-selatan sekitar 1900 m dengan lebar sepanjang 800 m.


Kumpulan candi Hindu beraliran Syiwa yang diperkirakan dibangun antara akhir abad ke-8 sampai awal abad ke-9 ini diduga merupakan candi tertua di Jawa. Sampai saat ini belum ditemukan informasi tertulis tentang sejarah Candi Dieng, namun para ahli memperkirakan bahwa kumpulan candi ini dibangun atas perintah raja-raja dari Wangsa Sanjaya. Di kawasan Dieng ini ditemukan sebuah prasasti berangka tahun 808 M, yang merupakan prasasti tertua bertuliskan huruf Jawa kuno, yang masih masih ada hingga saat ini. Sebuah Arca Syiwa yang ditemukan di kawasan ini sekarang tersimpan di Museum Nasional di Jakarta. Pembangunan Candi Dieng diperkirakan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama yang berlangsung antara akhir abad ke-7 sampai dengan perempat pertama abad ke-8, meliputi pembangunan Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi dan Candi Gatutkaca. Tahap kedua merupakan kelanjutan dari tahap pertama, yang berlangsung samapi sekitar tahun 780 M.

Candi Dieng pertama kali diketemukan kembali pada tahun 1814. Ketika itu seorang tentara Inggris yang sedang berwisata ke daerah Dieng melihat sekumpulan candi yang terendam dalam genangan air telaga. Pada tahun 1956, Van Kinsbergen memimpin upaya pengeringan telaga tempat kumpulan candi tersebut berada. Upaya pembersihan dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1864, dilanjutkan dengan pencatatan dan pengambilan gambar oleh Van Kinsbergen.

Luas keseluruhan kompleks Candi Dieng mencapai sekitar 1.8 x 0.8 km2. Candi-candi di kawasan Candi Dieng terbagi dalam 3 kelompok dan 1 candi yang berdiri sendiri yang dinamakan berdasarkan nama tokoh dalam cerita wayang yang diadopsi dari Kitab Mahabarata. Ketiga kelompok candi tersebut adalah Kelompok Arjuna, Kelompok Gatutkaca, Kelompok Dwarawati dan satu candi yang berdiri sendiri adalah Candi Bima.

a. Kelompok Arjuna
kompleks_arjuna1_fifi.jpg
Kelompok Arjuna terletak di tengah kawasan Candi Dieng, terdiri atas 4 candi yang berderet memanjang arah utara-selatan. Candi Arjuna berada di ujung selatan, kemudian berturut-turut ke arah utara adalah Candi Srikandi, Candi Sembadra dan Candi Puntadewa. Tepat di depan Candi Arjuna, terdapat Candi Semar. Keempat candi di komples ini menghadap ke barat, kecuali Candi Semar yang menghadap ke Candi Arjuna. Kelompok candi ini dapat dikatakan yang paling utuh dibandingkan kelompok candi lainnya di kawasan Dieng.


arjuna1_fifi.jpg
Candi Arjuna. Candi ini mirip dengan candi-candi di komples Gedong Sanga. Berdenah dasar persegi dengan luas sekitar ukuran sekitar 4 m2. Tubuh candi berdiri diatas batur setinggi sekitar 1 m. Di sisi barat terdapat tangga menuju pintu masuk ke ruangan kecil dalam tubuh candi. Pintu candi dilengkapi dengan semacam bilik penampil yang menjorok keluar sekitar 1 m dari tubuh candi. Di atas ambang pintu dihiasi dengan pahatan Kalamakara.


candi_arjuna4_Fifi.jpg
Pada dinding luar sisi utara, selatan dan barat terdapat susunan batu yang menjorok ke luar dinding, membentuk bingkai sebuah relung tempat arca. Bagian depan bingkai relung dihiasi dengan pahatan berpola kertas tempel. Bagian bawah bingkai dihiasi sepasang kepala naga dengan mulut menganga. Di bagian atas bingkai terdapat hiasan kalamakara tanpa rahang bawah. Pada dinding di kiri dan kanan ambang pintu bangunan utara terdapat relung tempat meletakkan arca. Saat ini kedua relung tersebut dalam keadaan kosong.


Pada dinding di sisi selatan, barat dan utara terdapat relung tempat meletakkan arca. Ambang relung diberi bingkai dengan hiasan pola kertas tempel dan Kalamakara di atasnya. Kaki bingkai dihiasi dengan pahatan kepala naga dengan mulut menganga. Tepat di pertengahan dinding di bawah relung terdapat jaladwara (saluran air).

Atap candi berbentuk kubus bersusun, makin ke atas makin mengecil. Bagian atas dan puncak atap sudah hancur. Di setiap sisi masing-masing kubus terdapat relung dan di setiap sudut terdapat hiasan berbentuk seperti mahkota bulat berujung runcing. Sebagian besar hiasan tersebut sudah rusak.

arjuna3_fifi.jpgarjuna2_fifi.jpg
Di tengah ruangan di dalam tubuh candi terdapat yang tampak seperti sebuah yoni. Di sudut luar, menempel pada dinding belakang candi terdapat arca yang sudah rusak.
semar1_Fifi.jpg
Candi Semar. Candi ini letaknya berhadapan dengan Candi Arjuna. Denah dasarnya berbentuk persegi empat membujur arah utara-selatan. Batur candi setinggi sekitar 50 cm, polos tanpa hiasan. Tangga menuju pintu masuk ke ruang dalam tubuh candi terdapat di sisi timur. Pintu masuk tidak dilengkapi bilik penampil. Ambang pintu diberi bingkai dengan hiasan pola kertas tempel dan kepala naga di pangkalnya. Di atas ambang pintu terdapat Kalamakara tanpa rahang bawah.


Pada dinding di kiri dan kanan pintu terdapat lubang jendela kecil. Di dinding utara dan selatan tubuh candi terdapat, masing-masing, dua lubang yang berfungsi sebagai jendela, sedangkan di dinding barat (belakang) candi terdapat 3 buah lubang. Ruangan dalam tubuh candi dalam keadaan kosong. Atap candi berbentuk limasan tanpa hiasan. Puncak atap sudah hilang, sehingga tidak diketahui lagi bentuk aslinya. Konon Candi Semar digunakan sebagai gudang untuk menyimpan senjata dan perlengkapan pemujaan.
srikandi1_Fifi.jpg
Candi Srikandi. Candi ini terletak di utara Candi Arjuna. Batur candi setinggi sekitar 50 cm dengan denah dasar berbentuk kubus. Di sisi timur terdapat tangga dengan bilik penampil.


srikandi2_fifi.jpg
Pada dinding utara terdapat pahatan yang menggambarkan Wisnu, pada dinding timur menggambarkan Syiwa dan pada dinding selatan menggambarkan Brahma. Sebagian besar pahatan tersebut sudah rusak. Atap candi sudah rusak sehingga tidak terlihat lagi bentuk aslinya.


sembadra1_Fifi.jpg
Candi Sembadra. Batur candi setinggi sekitar 50 cm dengan denah dasar berbentuk bujur sangkar. Di pertengahan sisi selatan, timur dan utara terdapat bagian yang menjorok keluar, membentuk relung seperti bilik penampil. Pintu masuk terletak di sisi barat dan, dilengkapi dengan bilik penampil. Adanya bilik penampil di sisi barat dan relung di ketiga sisi lainnya membuat bentuk tubuh candi tampak seperti poligon. Di halaman terdapat batu yang ditata sebagai jalan setapak menuju pintu.


sembadra2_Fifi.jpg
Sepintas Candi Sembadra terlihat seperti bangunan bertingkat, karena atapnya berbentuk kubus yang ukurannya hampir sama besar dengan ukuran tubuhnya. Puncak atap sudah hancur, sehingga tidak terlihat lagi bentuk aslinya. Di keempat sisi atap juga terdapat relung kecil seperti tempat menaruh arca.

puntadewa1_Fifi.jpg
Candi Puntadewa. Seperti candi lainnya, ukuran Candi Puntadewa tidak terlalu besar, namun candi ini tampak lebih tinggi. Tubuh candi berdiri di atas batur bersusun setinggi sekitar 2,5 m. Tangga menuju pintu masuk ke dalam ruang dalam tubuh candi dilengkapi pipi candi dan dibuat bersusun dua, sesuai dengan batur candi.


Atap candi mirip dengan atap Candi Sembadra, yaitu berbentuk kubus besar. Puncak atap juga sudah hancur, sehingga tidak terlihat lagi bentuk aslinya. Di keempat sisi atap juga terdapat relung kecil seperti tempat menaruh arca. Pintu dilengkapi dengan bilik penampil dan diberi bingkai yang berhiaskan motif kertas tempel.

puntadewa2_Fifi.jpg
Ruang dalam tubuh candi sempit dan kosong. Di ketiga sisi lainnya terdapat jendela yang bingkainya diberi hiasan mirip dengan yang terdapat di pintu. Sekitar setengah meter di luar kaki candi terdapat batu yang disusun berkeliling memagari kaki candi. Di depan candi terdapat batu yang disusun berkeliling membentuk ruangan berbentuk bujur sangkar. Di tengah ruangan terdapat dua buah susunan tumpukan dua buah batu bulat yang puncaknya berujung runcing.
puntadewa3_Fifi.jpg
Di utara candi terdapat batu yang disusun berkeliling membentuk ruangan berbentuk persegi panjang. Di tengah ruangan terdapat dua buah batu berbentuk mirip tempayan yang lebar.



b. Kelompok Gatutkaca
gatutkaca1_Fifi.jpg
Kelompok Gatutkaca juga terdiri atas 5 candi, yaitu Candi Gatutkaca, Candi Setyaki, Candi Nakula, Candi Sadewa, Candi Petruk dan Candi Gareng, namun saat ini yang masih dapat dilihat bangunannya hanya Candi Gatutkaca. Keempat candi lainnya hanya tersisa tinggal reruntuhannya saja.


Candi Gatutkaca. Batur candi setinggi sekitar 1 m dibuat bersusun dua dengan denah dasar berbentuk bujur sangkar. Di pertengahan sisi selatan, timur dan utara terdapat bagian yang menjorok keluar, membentuk relung seperti bilik penampil. Pintu masuk terletak di sisi barat dan, dilengkapi dengan bilik penampil. Anak tangga di batur terlindung dalam dalam bilik penampil.

gatutkaca2_Fifi.jpg
Sepintas Candi Gatutkaca juga terlihat seperti bangunan bertingkat, karena bentuk atapnya dibuat sama dengan bentuk tubuh candi. Puncak atap sudah hancur, sehingga tidak terlihat lagi bentuk aslinya. Di keempat sisi atap juga terdapat relung kecil seperti tempat menaruh arca. Sekitar setengah meter di luar kaki candi terdapat batu yang disusun berkeliling memagari kaki candi. Di halaman Kompleks Candi Gatutkaca terdapat tumpukan batu reruntuhan keempat candi lain yang belum dapat disusun kembali.


c. Kelompok Dwarawati
dwarawati1_Fifi.jpg
Kelompok Dwarawati terdiri atas 4 candi, yaitu Candi Dwarawati, Candi Abiyasa, Candi Pandu, dan Candi Margasari. Akan tetapi, saat ini yang berada dalam kondisi relatif utuh hanya satu candi, yaitu Candi Dwarawati.
Candi Dwarawati. Bentuk Candi Dwarawati mirip dengan Candi Gatutkaca, yaitu berdenah dasar segi empat dengan penampil di keempat sisinya. Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 50 cm. Tangga dan pintu masuk, yang terletak di sisi barat, saat ini dalam keadaan polos tanpa pahatan.

dwarawati2_Fifi.jpg
Pada pertengahan dinding tubuh candi di sisi utara, timur dan selatan terdapat semacam bilik penampil yang menjorok keluar membentuk relung tempat meletakkan arca. Bagian atas relung melengkung dan meruncing pada puncaknya. Ambang relung dihiasi pahatan bermotif bunga yang sederhana. Demikian juga sisi atas dinding bilik penampil. Ketiga relung pada dinding tubuh candi tersebut saat ini dalam keadaan kosong tanpa arca.


dwarawati4_Fifi.jpgdwarawati3_Fifi.jpg
Sepintas candi ini juga terlihat seperti bangunan bertingkat, karena bentuk atapnya dibuat sama dengan bentuk tubuh candi. Di keempat sisi atap terdapat relung tempat meletakkan arca. Saat ini, relung-relung tersebut juga dalam keadaan kosong. Puncak atap sudah tak tersisa lagi sehingga tidak diketahui bentuk aslinya. Di halaman depan candi terdapat susunan batu yang mirip sebuah lingga dan yoni.


d. Candi Bima
bima1_Fifi.jpg
Candi Bima terletak menyendiri di atas bukit. Candi ini merupakan bangunan terbesar di antara kumpulan Candi Dieng. Bentuknya berbeda dari candi-candi di Jawa tengah pada umumnya. Kaki candi mempunyai denah dasar bujur sangkar, namun karena di setiap sisi terdapat penampil yang agak menonjol keluar, maka seolah-olah denah dasar Candi Bima berbentuk segi delapan.


Penampil di bagian depan menjorok sekitar 1,5 m, berfungsi sebagai bilik penampil menuju ruang utama dalam tubuh candi. Penampil di ketiga sisi lainnya membentuk relung tempat meletakkan arca. Saat ini semuanya dalam keadaan kosong. Tak satupun arca yang masih tersisa.

bima2_Fifi.jpgbima3_Fifi.jpg
Bentuk atap candi terdiri atas 5 tingkat, masing-masing tingkat mengikuti lekuk bentuk tubuhnya, makin ke atas makin mengecil. Setiap tingkat dihiasi dengan pelipit padma ganda dan relung kudu. Kudu ialah arca setengah badan yang nampak se olah-olah sedang menjenguk ke luar. Hiasan semacam ini terdapat juga di Candi Kalasan. Puncak atap sudah hancur sehingga tidak diketahui bentuk aslinya.





Paket wisata dieng, klik--->>> Dieng 2D1N
SUMBER  : Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Bukit pangonan, sabana mini di tengah pulau jawa

08:54 Agun Adventure
Beberapa Gunung di Dieng memang sudah sangat familiar. Nama Prau, Sikunir, dan Pakuwaja tentu sudah akrab bagi mereka yang hobi mendaki. Keistimewaan Pemandangan Sunrise di Dieng yang beda dari yang lain menjadi salah satu daya tarik yang terus menyedot para pengunjung untuk datang dan menjelajahi daerah Pegunungan Dieng ,Negeri di atas Awan.

Namun apakah anda cukup familiar dengan nama Bukit Pangonan Dieng? mungkin beberapa diantara anda sudah pernah mendengar atau bahkan menjelajah bukit pendek di selatan kawasan wisata Dieng ini. Tapi bagi anda yang masih asing mari kita kenalan dengan Bukit yang memiliki padang Savana Hijau indah ini.


Bukit Pangonan Dieng dulunya merupakan kawasan Hutan rimbun yang dipenuhi pepohonan dan tanaman Perdu seperti Gelonggong,  Pringgondani, Daun Dores serta tanaman Semak Purwaceng yang kini dibudidayakan oleh masyarakat Dieng sebagai minuman kesehatan.

Jalur ke Pangonan bisa dimulai dari basecamp bukit pangonan di sebelah sekolah dasar dusun karangsari, melintasi perladangan penduduk hingga sampai ke areal yg masih rimbun untuk kemudian menyusuri jalan setapak kecil dan licin saat musim hujan dengan sesekali harus menyibak tumbuhan semak yang menghalangi jalan serta jurang curam di kiri jalan sehingga Butuh ekstra hati-hati agar perjalanan ke puncak Pangonan bisa ditempuh dengan Selamat.

Pemandangan Lanskap Desa Dieng yang indah akan menjadi teman perjalanan yang menyenangkan saat mendaki Bukit Pangonan. Perkampungan Dieng dilihat dari ketinggian tampak indah penuh kesan alami, harmonis dan damai.

Sesampai di Puncak Pangonan anda akan menjumpai semacam ceruk luas yang dulunya adalah Telaga Semurup. menuruni Cerug tersebut terdapat hamparan Padang Savana indah yang tumbuh dibekas telaga.

Dari arah Barat Bukit Pangonan anda juga bisa melihat pemandangan Telaga Merdada dari atas bukit.

Indahnya Surga tersembunyi Curug Sirawe - Dieng

17:06 Agun Adventure
Curug Sirawe berada di dataran tinggi Dieng dengan memiliki ketinggian sekitar 80m.  Air yang jatuh dari curug ini menimpa bebatuan dan membentuk kolam kecil di bawahnya.
Curug Sirawe
  • Mata air berasal dari wilayah Banjarnegara, tepatnya dusun Bitingan, desa Kepakisan, Kecamatan Batur
  • Air yang mengalir manjadi curug sudah masuk wilayah Batang, tepatnya dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang
Karena proses pemikiran tersebut curug Sirawe jatuh ke pangkuan Batang. Tetapi pihak Batang tidak serta merta membangun sarana dan prasarana yang menunjang aktivitas pariwisata di tempat ini, apalagi mempromosikanya. Curug ini dibiarkan saja seperti aslinya. Mungkin Batang sudah berpikir antara anggaran yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang akan didapat. Tetapi entah nanti jika Batang berubah pikiran :). Jika dipikir, untuk membangun proyek besar ini sebagai obyek wisata yang potensial di kabupaten Batang, maka Batang harus memperbaiki jalan antara Bawang – Bintoro – Sigemplong, atau jalan antara Bawang – Pranten – Sigemplong dan jembatan di selatan desa Pranten yang entah bagaimana kabarnya :)
Berbicara akses ke curug Sirawe, ada 2 jalur yang bisa dilewati. Pertama jalur Pawuhan (Geodipa) – Siglagah – Sigemplong. Dari Pawuhan dihadapkan jalanan aspal dan cor beton yang mengelupas. Sesampai Sigemplong kendaraan berhenti disini, dilanjut dengan jalan kaki ke atas desa, ke lereng gunung Sipandu. Kemudian menyusuri jalan setapak alternatif penghubung desa Sigemplong dan desa Bitingan. Jalur ini sulit dan jauh. Akan lebih sulit dan berbahaya di musim hujan.
Jalur kedua bisa lewat Kepakisan – Kawah Sileri -  Bitingan. Jalur ini lebih dekat dari jalur Sigemplong. Jalanan aspal mengelupas tetap bisa dijumpai dari pertigaan kawah Sileri sampai desa Bitingan. Sampai desa Bitingan semua kendaraan berhenti, menuju curug dilanjut dengan jalan kaki.
Kedua jalur tersebut sama sulitnya ketika memasuki turunan curug Sirawe, terlebih jika musim hujan.
Mengenai hal lain, curug ini gabungan dari air panas dan air dingin serta 2 air terjun yang berjejer. Air panas berasal dari proses geothermal di pegunungan Dieng, dan air dingin dari sungai biasa. Yang saya lihat, disekitar curug masih terjaga hutan heterogen khas dengan pohon pohon besarnya.
Setelah dari sini bisa melanjutkan perjalanan ke arah barat ke Telaga Merdada. Sebelumnya sempatkan pula mampir di Kawah Sileri yang baru-baru ini meletus. Tenang, letusan ini tidak tampak menimbulkan kerusakan yang berarti. Telaga Merdada merupakan telaga terluas di kawasan dengan luas 25 ha dan kedalaman 2-10 meter. Telaga ini juga masih berda di kawasan kabupaten banjarnegara. Telaga Merdada indah dan bersih, akan tampak beberapa orang yang memancing disana.


kak ayu

kak anri

Aksesbilitas

Perjalanan menuju curug dapat ditempuh dengan motor dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Jalan menuju curug belum terjamah aspal sehingga perjalanan akan perlu perjuangan. Begitu pula saat harus berjalan kaki menuju curug. Jalan setapak di dalam hutan yang masih rimbun cukup menyulitkan namun tetap bisa dilalui. Setelah hampir setengah jam berjalan akan mulai terdengar suara air mengalir deras


Kami pun segera berkemas. Sebelum berangkat, kami berembuk memilih jalur yang bakal ditempuh. Pertama, menggunakan jip dari Dukuh Pawuhan menuju Dukuh Bitingan, Desa Kepakisan, Batur Banjarnegara. Dari tempat itu, perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki menuju air terjun, lalu ke hutan perawan, kemudian Dukuh Sigemplong (Kabupaten Batang) dan berakhir di Kecamatan Bawang, Batang.

Jalur kedua, langsung berjalan kaki dari Dukuh Pawuhan menuju Dukuh Rejosari-Dukuh Sigemplong (keduanya masuk wilayah Kabupaten Batang), Air Terjun, Hutan Perawan, dan berakhir di Kecamatan Bawang.

Saat itu kami putuskan untuk memilih jalur pertama. Pagi itu jip yang kami tumpangi meluncur pelan, menyusuri jalan utama menuju Desa Kepakisan. Jalur yang kami pilih memang tidak dilewati angkutan umum. Dari pertigaan Dukuh Simpangan, Karangtengah, angkutan yang tersedia menuju Kecamatan Batur via Desa Kepakisan-Pekasiran hanya berupa mobil sayur dan ojek.

Semula jalan yang kami lalui mulus-mulus saja. Tantangannya juga tidak seberapa. Paling hanya ada tanjakan dan turunan tajam. Tapi benar, setelah itu medannya berat. Ketika Mulai berbelok di jalur menuju ke Dukuh Bitingan, jalan sudah tidak beraspal lagi. Jip yang mengantar kami juga harus merambat lebih pelan dan berhati-hati ketika menyusuri jalan berbatu menuju hutan perawan.

Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak untuk menyaksikan Kawah Sileri. Kawah dengan areal yang cukup luas itu sudah masuk kawasan Dukuh Bitingan. Kawah disebut Sileri karena airnya berwarna putih, seperti air cucian beras (leri). Kepulan asap panas bumi yang muncul dari dalam kawah terlihat begitu menawan. Di sana juga tersedia semacam shelter untuk wisatawan.

Setelah puas, kami segera melanjutkan perjalanan. Kanan-kiri jalur masih berupa lahan kentang. Belum juga terlihat tanda-tanda ada hutan perawan di kawasan tersebut.

Beberapa saat kemudian, sampailah kami di Dusun Bitingan. Dari tempat itu, jip yang kami gunakan, tidak bisa meneruskan perjalanan dan harus kami titipkan kepada warga setempat. Perjalanan menuju hutan perawan kami lanjutkan dengan berjalan kaki.

Melawati jalan setapak di tengah lahan kentang, pandangan kami masih mencari di mana jalur menuju hutan perawan tersebut. Memang terlihat dari atas, tiga air terjun ada di kawasan itu. Namun jalur menuju tempat yang dimaksud itu tidak mudah ditemukan.

Ternyata jalurnya memang agak "tersembunyi", tertutup oleh rerimbunan ilalang dan sulur pohon rotan. Jalan juga mulai menurun, mengikuti lereng Gunung Sipandu.

Pemandangan nan menawan hati dan membuat saya berdecak kagum terdapat di balik rerimbunan semak tersebut. Sebuah terowongan alam yang tersusun dari puluhan bahkan ratusan sulur pohon rotan, seakan menjadi gerbang penanda bahwa kami mulai memasuki kawasan hutan.
***
Foto bareng (yang pake baju putih namanya kak nitha)

PERJALANAN menuju Curug Sirawe memang bak memasuki dunia baru, kawasan yang jarang dilewati orang dan jauh berbeda dari kondisi Dataran Tinggi Dieng pada umumnya. Yang ada hanya berupa jalan setapak. Bahkan tak jarang, beberapa ranting atau semak menutup jalur yang akan kami lalui.

Pemandangan yang terpampang di sepanjang jalur sungguh membuat kami merasa seperti tidak berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Kawasan tersebut benar-benar tertutup rapat oleh hutan. Pandangan pun terbatas oleh pohon-pohon besar dan berbagai macam tanaman. Posisinya yang berada di lereng terjal, membuat kawasan itu belum "tersentuh" oleh pertanian intensif.

Beberapa puluh menit kemudian, kami pun hampir mencapai Curug Sirawe. Jalanan semakin terjal, bahkan kami harus benar-benar hati-hati agar tidak terpeleset. Jalur itu memang seperti jalur saat kita turun gunung. Bagi kami, tantangan itulah yang semakin menarik untuk ditelusuri. Terlebih saat air terjun sudah mulai tampak. Gemericik suara curug yang bersumber dari gabungan mata air dingin dan panas itu, membuat hati ingin cepat-cepat tiba di sana.