Eksotisme bukit pangonan (miniatur bukit telletubbies)

16:00 Agun Adventure
Dieng terkenal dengan keindahan alamnya. Kawasan Wisata yang dikelilingi pegunungan dan perbukitan ini sarat akan panorama-panorama indah khas pegunungan hijau dan asri yang masih alami sehingga cukup menantang untuk dijelajah.


bukit pangonan



Beberapa Gunung di Dieng memang sudah sangat familiar. Nama Prau, Sikunir, dan Pakuwaja tentu sudah akrab bagi mereka yang hobi mendaki. Keistimewaan Pemandangan Sunrise di Dieng yang beda dari yang lain menjadi salah satu daya tarik yang terus menyedot para pengunjung untuk datang dan menjelajahi daerah Pegunungan Dieng ,Negeri di atas Awan.
Namun apakah anda cukup familiar dengan nama Bukit Pangonan Dieng? mungkin beberapa diantara anda sudah pernah mendengar atau bahkan menjelajah bukit pendek di selatan kawasan wisata Dieng ini. Tapi bagi anda yang masih asing mari kita kenalan dengan Bukit yang memiliki padang Savana Hijau indah ini.
Bukit Pangonan Dieng dulunya merupakan kawasan Hutan rimbun yang dipenuhi pepohonan dan tanaman Perdu seperti Gelonggong,  Pringgondani, Daun Dores serta tanaman Semak Purwaceng yang kini dibudidayakan oleh masyarakat Dieng sebagai minuman kesehatan.
Jalur ke Pangonan bisa dimulai dari atas Museum Kailasa, melintasi perladangan penduduk hingga sampai ke areal yg masih rimbun untuk kemudian menyusuri jalan setapak kecil dan licin saat musim hujan dengan sesekali harus menyibak tumbuhan semak yang menghalangi jalan serta jurang curam di kiri jalan sehingga Butuh ekstra hati-hati agar perjalanan ke puncak Pangonan bisa ditempuh dengan Selamat.
Pemandangan Lanskap Desa Dieng yang indah akan menjadi teman perjalanan yang menyenangkan saat mendaki Bukit Pangonan. Perkampungan Dieng dilihat dari ketinggian tampak indah penuh kesan alami, harmonis dan damai.
Sesampai di Puncak Pangonan anda akan menjumpai semacam ceruk luas yang dulunya adalah Telaga Semurup. menuruni Cerug tersebut terdapat hamparan Padang Savana indah yang tumbuh dibekas telaga.
Dari arah Barat Bukit Pangonan anda juga bisa melihat pemandangan Telaga Merdada dari atas bukit.





NOTED* gambar di ambil dari berbagai sumber

Belajar bahasa inggris bersama ibu-ibu homestay

18:50 Agun Adventure
Yosh mungkin ini sedikit "out of topic" dari catatan yang biasanya, disini saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya waktu mengikuti pelatihan bahasa inggris yang diselenggarakan oleh ibu-ibu homestay selama 2 minggu kemarin.
Spoiler "miss veggy putri astuti"

yapps to the point ajah ya... sebenarnya pelatihan ini diselenggarakan untuk para ibu-ibu homestay untuk pengembangan SDM dari masyarakat lokal, tetapi berhubung sang ketua suku A.K.A ketua paguyuban homestay (ibu thina) memperbolehkan siapa saja untuk ikut bergabung dalam pelatihan tersebut alhasil saya jadi mengikuti pelatihan tersebut "ya lumayanlah buat nambah ilmu mimin di dunia pariwisata (khususnya dalam bahasa asing).

Pelatihan ini sendiri dimulai pada tanggal 2 februari 2018 kemarin, pas pertama saya datang jujur masih bingung harus apa karena memang itu adalah hari pertama, niatnya pas pertama kali datang cuma mendengarkan dan mengikuti arus cuma karena gara-gara teman mengajak ngobrol akhirnya ke gap juga sama tutornya "suruh memperkenalkan diri pakai bahasa inggris" ahahahaha siall.
Precentation "photo by miss veggy"

Tim HORE

Oiya gengs tutornya pas pelatihan ini tu cewek masih muda ya kisaran 23-24 tahun lahh beda dikit sama mimin wkwkwk, namanya lengkapnya "veggy putri astuti" biasa di panggil "veggy" asli dari lombok, kalian bisa cek profilnya di link berikut https://www.instagram.com/mbakegot/
Miss veggy ini orangnya supel banget, enak diajak ngobrol, dan yaa masih banyak lagi

Selama pelatihan pun banyak sekali diselingi dengan becanda engga jelas hahaha,, ya walaupun saya sendiri tidak setiap hari berangkat karena banyak sekali kesibukan... tapi itu cukup untuk membuat semuanya akrab
Jalan-jalan "Musium kailasa"
Menunggu matahari terbit di bukit sikunir "edisi kabut"

Namanya jauh-jauh dari lombok tetap ada liburannya walaupun cuma sebentar, ya itulah resiko yang harus aku tanggung huhuhu karena dari semua partisipan cowok hanya saya yang sering berangkat, karena itu juga akhirnya pada suatu sore sepulang les bahasa inggris, ibu-ibu homestay menyuruh saya mengantar miss veggy jalan-jalan.

Sebenarnya mau ngga mau nganterin miss veggy jalan-jalan (ceritanya grogi) hahaha karena saya sendiri sangat jarang bahkan hampir tidak pernah jalan sama cewek berdua,, naik motor lagi hahaha, ditambah lagi selama itu juga miss veggy minta ngobrol pakai bahasa inggris hahaha sial LOL "tapi seru juga walaupun banyak ngga nyambungnya (paham cuma mau jawab pakai bahasa inggris belum bisa)
Catching the sun

I kiss the sun "kata miss veggy di instagramnya"

Sempat ke sikunir juga untuk sekedar hunting sunrise (ceritanya pengejar matahari) cuma karena berhubung waktu yang tidak memungkinkan (karena kesibukan masing-masing) jadi cuma beberapa objek wisata saja yang bisa dikunjungi

Selama pelatihan pun partisipan yang hadir pun bisa dihitung dengan jari yahh yang jelas karena kesibukan masing-masing, yang pasti selama pelatihan ini banyak sekali kesan-kesan yang didapatkan dan dari pelatihan ini juga bisa menjadi modal kedepannya bagi mereka yang hadir selama pelatihan (termasuk saya)
Ngga tau dahh model apaan

Besar harapan dari saya dalam pelatihan ini bisa menjadi batu loncatan untuk kemajuan pariwisata dieng, aammiinn...........

Semoga kita semua bisa cepat berjumpa kembali CC (semua partisipan dalam acara ini) untuk sekedar sharing dan lain-lain........

Yaps mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan dalam tulisan kali ini........
sampai jumpa lagi dalam tulisan selanjutnya.........

We will miss you mis veggy :D.........

PS: to miss veggy,, someday if you can go to dieng again you must try to african savanna in dieng and sirawe waterfall,, trust me.....

Baca juga :

Indahnya Surga tersembunyi Curug Sirawe - Dieng

17:06 Agun Adventure
Curug Sirawe berada di dataran tinggi Dieng dengan memiliki ketinggian sekitar 80m.  Air yang jatuh dari curug ini menimpa bebatuan dan membentuk kolam kecil di bawahnya.
Curug Sirawe
  • Mata air berasal dari wilayah Banjarnegara, tepatnya dusun Bitingan, desa Kepakisan, Kecamatan Batur
  • Air yang mengalir manjadi curug sudah masuk wilayah Batang, tepatnya dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang
Karena proses pemikiran tersebut curug Sirawe jatuh ke pangkuan Batang. Tetapi pihak Batang tidak serta merta membangun sarana dan prasarana yang menunjang aktivitas pariwisata di tempat ini, apalagi mempromosikanya. Curug ini dibiarkan saja seperti aslinya. Mungkin Batang sudah berpikir antara anggaran yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang akan didapat. Tetapi entah nanti jika Batang berubah pikiran :). Jika dipikir, untuk membangun proyek besar ini sebagai obyek wisata yang potensial di kabupaten Batang, maka Batang harus memperbaiki jalan antara Bawang – Bintoro – Sigemplong, atau jalan antara Bawang – Pranten – Sigemplong dan jembatan di selatan desa Pranten yang entah bagaimana kabarnya :)
Berbicara akses ke curug Sirawe, ada 2 jalur yang bisa dilewati. Pertama jalur Pawuhan (Geodipa) – Siglagah – Sigemplong. Dari Pawuhan dihadapkan jalanan aspal dan cor beton yang mengelupas. Sesampai Sigemplong kendaraan berhenti disini, dilanjut dengan jalan kaki ke atas desa, ke lereng gunung Sipandu. Kemudian menyusuri jalan setapak alternatif penghubung desa Sigemplong dan desa Bitingan. Jalur ini sulit dan jauh. Akan lebih sulit dan berbahaya di musim hujan.
Jalur kedua bisa lewat Kepakisan – Kawah Sileri -  Bitingan. Jalur ini lebih dekat dari jalur Sigemplong. Jalanan aspal mengelupas tetap bisa dijumpai dari pertigaan kawah Sileri sampai desa Bitingan. Sampai desa Bitingan semua kendaraan berhenti, menuju curug dilanjut dengan jalan kaki.
Kedua jalur tersebut sama sulitnya ketika memasuki turunan curug Sirawe, terlebih jika musim hujan.
Mengenai hal lain, curug ini gabungan dari air panas dan air dingin serta 2 air terjun yang berjejer. Air panas berasal dari proses geothermal di pegunungan Dieng, dan air dingin dari sungai biasa. Yang saya lihat, disekitar curug masih terjaga hutan heterogen khas dengan pohon pohon besarnya.
Setelah dari sini bisa melanjutkan perjalanan ke arah barat ke Telaga Merdada. Sebelumnya sempatkan pula mampir di Kawah Sileri yang baru-baru ini meletus. Tenang, letusan ini tidak tampak menimbulkan kerusakan yang berarti. Telaga Merdada merupakan telaga terluas di kawasan dengan luas 25 ha dan kedalaman 2-10 meter. Telaga ini juga masih berda di kawasan kabupaten banjarnegara. Telaga Merdada indah dan bersih, akan tampak beberapa orang yang memancing disana.


kak ayu

kak anri

Aksesbilitas

Perjalanan menuju curug dapat ditempuh dengan motor dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Jalan menuju curug belum terjamah aspal sehingga perjalanan akan perlu perjuangan. Begitu pula saat harus berjalan kaki menuju curug. Jalan setapak di dalam hutan yang masih rimbun cukup menyulitkan namun tetap bisa dilalui. Setelah hampir setengah jam berjalan akan mulai terdengar suara air mengalir deras


Kami pun segera berkemas. Sebelum berangkat, kami berembuk memilih jalur yang bakal ditempuh. Pertama, menggunakan jip dari Dukuh Pawuhan menuju Dukuh Bitingan, Desa Kepakisan, Batur Banjarnegara. Dari tempat itu, perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki menuju air terjun, lalu ke hutan perawan, kemudian Dukuh Sigemplong (Kabupaten Batang) dan berakhir di Kecamatan Bawang, Batang.

Jalur kedua, langsung berjalan kaki dari Dukuh Pawuhan menuju Dukuh Rejosari-Dukuh Sigemplong (keduanya masuk wilayah Kabupaten Batang), Air Terjun, Hutan Perawan, dan berakhir di Kecamatan Bawang.

Saat itu kami putuskan untuk memilih jalur pertama. Pagi itu jip yang kami tumpangi meluncur pelan, menyusuri jalan utama menuju Desa Kepakisan. Jalur yang kami pilih memang tidak dilewati angkutan umum. Dari pertigaan Dukuh Simpangan, Karangtengah, angkutan yang tersedia menuju Kecamatan Batur via Desa Kepakisan-Pekasiran hanya berupa mobil sayur dan ojek.

Semula jalan yang kami lalui mulus-mulus saja. Tantangannya juga tidak seberapa. Paling hanya ada tanjakan dan turunan tajam. Tapi benar, setelah itu medannya berat. Ketika Mulai berbelok di jalur menuju ke Dukuh Bitingan, jalan sudah tidak beraspal lagi. Jip yang mengantar kami juga harus merambat lebih pelan dan berhati-hati ketika menyusuri jalan berbatu menuju hutan perawan.

Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak untuk menyaksikan Kawah Sileri. Kawah dengan areal yang cukup luas itu sudah masuk kawasan Dukuh Bitingan. Kawah disebut Sileri karena airnya berwarna putih, seperti air cucian beras (leri). Kepulan asap panas bumi yang muncul dari dalam kawah terlihat begitu menawan. Di sana juga tersedia semacam shelter untuk wisatawan.

Setelah puas, kami segera melanjutkan perjalanan. Kanan-kiri jalur masih berupa lahan kentang. Belum juga terlihat tanda-tanda ada hutan perawan di kawasan tersebut.

Beberapa saat kemudian, sampailah kami di Dusun Bitingan. Dari tempat itu, jip yang kami gunakan, tidak bisa meneruskan perjalanan dan harus kami titipkan kepada warga setempat. Perjalanan menuju hutan perawan kami lanjutkan dengan berjalan kaki.

Melawati jalan setapak di tengah lahan kentang, pandangan kami masih mencari di mana jalur menuju hutan perawan tersebut. Memang terlihat dari atas, tiga air terjun ada di kawasan itu. Namun jalur menuju tempat yang dimaksud itu tidak mudah ditemukan.

Ternyata jalurnya memang agak "tersembunyi", tertutup oleh rerimbunan ilalang dan sulur pohon rotan. Jalan juga mulai menurun, mengikuti lereng Gunung Sipandu.

Pemandangan nan menawan hati dan membuat saya berdecak kagum terdapat di balik rerimbunan semak tersebut. Sebuah terowongan alam yang tersusun dari puluhan bahkan ratusan sulur pohon rotan, seakan menjadi gerbang penanda bahwa kami mulai memasuki kawasan hutan.
***
Foto bareng (yang pake baju putih namanya kak nitha)

PERJALANAN menuju Curug Sirawe memang bak memasuki dunia baru, kawasan yang jarang dilewati orang dan jauh berbeda dari kondisi Dataran Tinggi Dieng pada umumnya. Yang ada hanya berupa jalan setapak. Bahkan tak jarang, beberapa ranting atau semak menutup jalur yang akan kami lalui.

Pemandangan yang terpampang di sepanjang jalur sungguh membuat kami merasa seperti tidak berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Kawasan tersebut benar-benar tertutup rapat oleh hutan. Pandangan pun terbatas oleh pohon-pohon besar dan berbagai macam tanaman. Posisinya yang berada di lereng terjal, membuat kawasan itu belum "tersentuh" oleh pertanian intensif.

Beberapa puluh menit kemudian, kami pun hampir mencapai Curug Sirawe. Jalanan semakin terjal, bahkan kami harus benar-benar hati-hati agar tidak terpeleset. Jalur itu memang seperti jalur saat kita turun gunung. Bagi kami, tantangan itulah yang semakin menarik untuk ditelusuri. Terlebih saat air terjun sudah mulai tampak. Gemericik suara curug yang bersumber dari gabungan mata air dingin dan panas itu, membuat hati ingin cepat-cepat tiba di sana.

Pendakian gunung sumbing via garung jalur lama

10:49 Agun Adventure
Gunung Sumbing adalah gunung api yang terdapat di Jawa Tengah, Indonesia. Berdiri tegak setinggi 3.371 meter di atas permukaan laut, gunung Sumbing merupakan gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru dan Gunung Slamet. Gunung ini secara administratif terletak di tiga wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Magelang; Kabupaten Temanggung; dan Kabupaten Wonosobo. Bersama dengan Gunung Sindoro, Gunung Sumbing membentuk bentang alam gunung kembar, seperti Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, apabila dilihat dari arah Temanggung. Celah antara gunung ini dan Gunung Sindoro dilalui oleh jalan provinsi yang menghubungkan kota Temanggung dan kota Wonosobo. Jalan ini biasa dijuluki sebagai ""Kledung Pass".
Tidak diketahui pasti kapan gunung ini meletus, tetapi di puncaknya terdapat kawah yang masih aktif.
Gunung Sumbing mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung. Sebagian besar wilayah kereng gunung ini telah digunakan untuk lahan pertanian.
Peta Gunung sumbing via garung
Hellowww para penikmat ketinggian, jumpa lagi dengan saya ocidd dalam catatan harian Anak Gunung. pada kesempatan kali ini saya akan berbagi pengalaman mendaki gunung sumbing dengan ketinggian 3371 mdpl, singkat kata akhirnya setelah sekian lama akhirnya bisa mendaki gunung sumbing lagi. kemarin saya sendiri berangkat pas bulan september (pas ultah ane sendiri, ciiyyeeee ahahay) rencana berangkat sama temen dari dieng berdua, tapi pas hari H dia batal hohoho sedih rasanya tapi dengan hati dan tekad baja saya tetap melanjutkan rencana awal mendaki sumbing mount #edisibahasainggris :D

Setelah semua persiapan saya rasa cukup akhirnya saya berangkat dari dieng menuju dusun garung yang berada di wonosobo, kalo yang ga tau nih saya kasi tau, kalo dari arah jakarta biasanya sih turun di terminal mendolo wonosobo kemudian lanjut naik bis medium a.k.a cebong jaya trus tinggal bilang dehh turun di dusun garung getoo yahhh jangan lupa,............

Nah dari jalan raya menuju dusun garung kita bisa jalan kaki kurang lebih 10 menit menuju basecamp pendakian, di basecamp fasilitasnya lengkap looh, ada tempat sholat, kamar ganti, wc umum, kamar mandi, warung, & area parkir. pokoknya nyaman dehh buat istirahat, oiya bagi yang belum pernah mendaki gunung saya saranin jangan sekali-kali mendaki nih gunung karena dari medannya sendiri memang tergolong tingkat medium keatas. dan bagi yang udah terlanjur ya udah jalanin aja hhahaha.
Basecamp Gunung Sumbing via Garung
And it's time for packing-packing hhahah, pas jam 11 siang saya mulai mendaki gunung sumbing #sendirian huhuhu pokoknya bener-bener kesepian waktu itu, tapi tidak masalah yang penting nikmati aja. nah dari basecamp ke pos 1 saya sendiri ojek biar cepet hhehe soalnya dari jarak emang lumayan jauh gans, dari pos 1 ini udah full jalan kaki sampai puncak dari treknya sendiri sihh masih enak lahh sampai pos 2, nanjak bonus nanjak bonus nanjak bonus yahh kira-kira seperti itulah
Pos 1 Malim via garung jalur lama
Pos 2 Genus via garung jalur lama
dan perjalanan pun masih berlanjut gengs, karena target saya sendiri camp di pestan #3/4jalan. di atas pos 2 ini jalannya bagus looh banyak landainya :D #nanjaknyaserem pas di pos bayangan #engkol-engkolan jalan mulai nanjak apalagi yang sebelum pos 3 uuuhhhh bikin ngilu kalo liat bawah, tapi seru juga sih ada tantangannya gitu (disarankan jangan mendaki pas musim hujan soalnya kalo pas di engkol-engkolan jalan licin bingitzzzz), setelah engkol-engkolan pas diatasnya itu udah pos 3.
Pos 3 gunung sumbing via garung jalur lama


Spoiler for engkol-engkolan
dan perjalanan masih dilanjutkan lagi menuju campsite pestan
ada sedikit kata yang saya kutip dari film 5cm :

Kemudian yang kamu perlukan hanyalah
Kaki yang akan melangkah lebih jauh dari biasanya
Tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya
Mata yang akan melihat lebih lama dari biasanya
Leher yang akan lebih sering melihat ke atas
Lapisan tekad yang seribu kali lebih kuat dari baja
Dan hati yang akan lebih keras
Serta mulut yang selalu berdoa


ya itulah sedikit kata yang menggambarkan perjuangan dari pos 3 menuju puncak gunung sumbing, karena mulai dari sini ke puncak hanya ada sedikit jalan landai untuk melepas penat selama di tanjakan dari pos 3 ke puncak.


akhirnya dengan penuh perjuangan akhirnya saya tiba di camp area pestan gunung sumbing via garung jalur lama, setelah berputar-putar akhirnya saya dapat tempat mendirikan tenda, dan terttetttttetetet istirahat di dalam tenda kesayangan (ga ada fotonya), kemudian dilanjut acara masak makan malam dan lanjut berkunjung ke tenda tetangga numpang ngopi sejenak hhahaha.


perlu diingat nih, lama perjalanan dari basecamp menuju pestan tergantung dari kecepatan kita berjalan, saya sendiri waktu itu 9 jam jalan kaki pos 1 - pestan, karena niat saya waktu itu hanya untuk menikmati alam. setelahnya saya lanjut istirahat isi tenaga buat summit attack ke puncak dini hari (rata-rata summit berangkat jam 3 pagi) dan memakan waktu kurang lebih 3-4 jam,

dan waktunya tidur zZzZzZz !!! set alarm jam 2 pagi huhuhu

singkat kata jam 3 pagi baru bangun karena kecapean yang melanda hhaha, dan walhasil jam 4 pun saya baru berangkat menuju puncak buntu gunung sumbing, karena kondisi gelap jadi ga bisa liat kanan kiri.

View pestan siang hari
Pasar watu gunung sumbing via garung


watu kotak gunung sumbing via garung


tanah putih gunung sumbing via garung
perjalanan masih berlanjut, melewati pasar watu, watu kotak, tanah putih, & dan finally,.........
dengan perjuangan yang sangat-sangat payah akhirnya saya tiba di puncak buntu, waktu itu saya sampai menitikkan air mata pas baru sampai puncak, tidak lupa juga sujud syukur pun saya lakukan untuk mensyukuri hidup ini, satu hal yang selalu ada dipikiran saya waktu itu KITA INI SEBENARNYA KECIL, AKAN TETAPI KITA SENDIRI YANG KADANG MERASA BESAR dan NIKMAT MANA LAGI YANG TELAH ENGKAU DUSTAKAN DALAM HIDUP INI
Setelah dirasa cukup akhirnya saya pun kembali turun menuju tenda kesayangan muehehe, sepanjang perjalanan menuju tenda saya baru sadar ternyata trek yang saya lewati terjal banget loo gengs,....... GA NYANGKA BANGET SUMPAH,.............
setelah tiba di tenda kemudian saya lanjut memasak makan-makanan seadanya,, oohh sungguh nikmatnya makan di alam dengan menu seadanya tapi disuguhkan dengan pemandangan indah luar biasa,........
sampai-sampai saya sendiri lupa waktu dibuatnya,....

dan saatnya packing, persiapan perjalanan kembali menuju basecamp,........

cukup sekian dari saya, karena perjalanan turun saya kemarin sangat membosankan untuk diceritakan
maaf kata apabila tulisan terlalu berbelit-belit banyak ini itu hhehe

sampai jumpa lagi di Catatan Anak Gunung selanjutnya...............